SAMARINDA, UINSI NEWS – Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda melaksanakan Apel Senin Pagi bertempat di halaman Unit Rektorat UINSI Samarinda. Senin, (25/5).
Bertindak sebagai pembina apel, Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UINSI Samarinda, menyampaikan amanat tentang makna Iduladha, penguatan iman, serta pentingnya membangun pribadi yang kompeten dan berintegritas.
Dalam amanatnya, Prof. Nasir mengingatkan bahwa menjelang Hari Raya Iduladha pada 27 Mei 2026, seluruh peserta apel perlu memahami makna kurban secara lebih luas. Menurutnya, berkurban tidak hanya dimaknai dalam bentuk penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai momentum untuk mengorbankan sifat-sifat negatif dalam diri.
“Jika belum mampu berkurban secara fisik, maka kita dapat berkurban dengan menghilangkan sifat-sifat yang tidak baik, seperti egois dan malas. Itulah bagian dari filosofi berkurban, yaitu menguatkan keimanan dan memperbaiki diri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Nasir mengutip Surah Al-Qasas ayat 26:
قَالَتْ إِحْدَىٰهُمَا يَـٰٓأَبَتِ ٱسْتَـْٔجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ
Qālat iḥdāhumā yā abati ista’jirhu, inna khaira manista’jarta al-qawiyyul-amīn.
Artinya: “Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, ‘Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.’”
Prof. Nasir menjelaskan bahwa ayat tersebut mengabadikan ucapan putri Nabi Syuaib tentang dua syarat utama bagi seseorang yang layak diberi amanah, yaitu al-qawiyy dan al-amīn.
Beliau menjelaskan, al-qawiyy berarti kuat, cakap, dan kompeten. Dalam konteks kerja kelembagaan, al-qawiyy dapat dimaknai sebagai kemampuan profesional yang ditopang oleh kualifikasi, kemauan untuk terus belajar, penguatan kapasitas, sertifikasi, serta semangat untuk terus berinovasi.
“Orang yang al-qawiyy adalah orang yang kuat pengetahuannya, profesional dalam bidangnya, dan selalu berusaha meningkatkan kapasitas diri,” jelasnya.
Sementara itu, al-amīn dimaknai sebagai pribadi yang memiliki integritas, kejujuran, serta mampu memberikan rasa aman dan kepercayaan. Prof. Nasir menegaskan bahwa kompetensi dan integritas tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus hadir secara bersamaan dalam diri setiap pemimpin, dosen, tenaga kependidikan, maupun seluruh unsur yang berperan dalam pengembangan kampus.
“Banyak orang yang kuat secara intelektual, tetapi tidak memiliki integritas. Sebaliknya, ada juga orang yang jujur, tetapi belum memiliki kapasitas yang memadai. Karena itu, dua hal ini harus menyatu: al-qawiyy dan al-amīn,” tegasnya.
Melalui amanat tersebut, Prof. Nasir mengajak seluruh peserta apel untuk terus memperkuat kapasitas diri, menjaga amanah, serta membangun budaya kerja yang profesional dan berintegritas. Ia berharap nilai-nilai al-qawiyy dan al-amīn dapat menjadi landasan bersama dalam mendorong pengembangan UINSI Samarinda ke depan.
“Mudah-mudahan ke depan kita memiliki dua indikator ini, yaitu al-qawiyy dan al-amīn, untuk pengembangan kampus kita bersama,” tutup beliau.
Apel Senin pagi ini menjadi momentum penguatan komitmen bersama untuk terus membangun UINSI Samarinda sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang tidak hanya unggul secara akademik dan kelembagaan, tetapi juga ditopang oleh insan-insan yang kompeten, amanah, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi kemajuan kampus.
Selain dilaksanakan di Unit Rektor, Apel pagi yang rutin digelar setiap senin ini juga dilaksanakan di setiap Unit dan Fakultas masing-masing. Berikut potret pelaksanaan Apel di UINSI Samarinda:
Penulis: Selvi Ramadhani
Editor: Nisa Rahmawati



















