Guru Besar UINSI Jadi Khatib Wukuf di Arafah, Sampaikan Makna Haji dan Refleksi Kehidupan

ARAB SAUDI, UINSI NEWS — Guru Besar Bidang Ilmu Ulumul Hadis Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Prof. Dr. Abdul Majid, S.Ag., M.A., mendapat amanah menjadi khatib wukuf di Arafah saat bertugas sebagai Petugas Haji Daerah Provinsi Kalimantan Timur di Tanah Suci. Selasa (26/5).
Dalam pesan yang disampaikan dari Tanah Suci, Prof. Abdul Majid mengungkapkan rasa syukur atas amanah tersebut sekaligus memohon doa agar pelaksanaan ibadah wukuf berjalan lancar.
“Insya Allah hari ini kami wukuf dan saya diminta jadi khatibnya. Semoga dimudahkan oleh Allah,” ujarnya.Pada momentum wukuf di Arafah, beliau mengajak jamaah untuk bersyukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji. Menurutnya, tidak semua orang yang menunggu lama mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci.

“Ada yang bertahun-tahun menunggu giliran. Ada yang sudah mendapat kesempatan tetapi menghadapi berbagai hambatan. Bahkan ada juga yang telah sampai di Makkah namun berpulang ke rahmatullah sebelum wukuf,” katanya.

Beliau menjelaskan bahwa wukuf bukan sekadar ritual berhenti di Padang Arafah, tetapi juga momentum perenungan diri. Kata “Arafah”, menurutnya, mengandung makna mengenali dan mengetahui hakikat diri manusia.

“Wukuf adalah berhenti dari segala aktivitas, terutama yang bersifat duniawi, untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya, di mana posisi kita saat ini, dan akan ke mana setelah kehidupan ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Abdul Majid menegaskan bahwa secara fikih pelaksanaan ibadah haji memang berlangsung di Tanah Suci, namun implementasi nilai-nilai hajinya justru diuji setelah jamaah kembali ke kampung halaman masing-masing.

“Seberapa mampu kita menerapkan makna-makna yang secara simbolis terkandung dalam ritual haji dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Beliau juga memaknai pakaian ihram serba putih sebagai pengingat akan kematian dan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Menurutnya, seluruh atribut duniawi seperti jabatan, kekayaan, maupun status sosial pada akhirnya akan ditinggalkan.

“Kita menanggalkan pakaian kebesaran kita sebagai pejabat, pengusaha, ataupun cendekiawan. Semua akan ditinggalkan, dan yang tersisa hanyalah kain kafan berwarna putih. Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa,” ujarnya.

Selain itu, beliau menjelaskan makna lempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar ketika menjalankan perintah Allah SWT.

“Godaan setan selalu ada agar manusia mengabaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Karena itu, manusia harus terus menolak dan melawannya,” katanya.

Sementara itu, thawaf dimaknainya sebagai simbol bahwa seluruh aktivitas manusia semestinya selalu terhubung dengan Allah SWT sebagai pusat kehidupan.

“Ka’bah adalah simbol ketauhidan kepada Allah Yang Maha Esa. Sedangkan thawaf merepresentasikan seluruh aktivitas manusia dalam kehidupan yang tidak boleh keluar dari hubungan dan keterikatannya dengan Allah,” pungkasnya.

Melalui momentum Iduladha dan pelaksanaan ibadah haji, UINSI Samarinda terus menghadirkan kontribusi keilmuan dan dakwah yang membumi bagi masyarakat. Keterlibatan Prof. Abdul Majid hingga dipercaya menjadi khatib wukuf di Arafah menunjukkan bahwa keilmuan para akademisi UINSI mendapat pengakuan luas dan tidak hanya berkembang di ruang-ruang akademik, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi umat.

Kehadiran akademisi UINSI di tengah masyarakat diharapkan mampu memperkuat nilai spiritualitas, moderasi beragama, serta pengembangan peradaban Islam yang humanis, inklusif, dan berkeadaban.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»