Prodi BKI UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Gelar Visiting Lecturer, Bahas Konseling Lintas Budaya dan Indigenous Counseling

SAMARINDA, UINSI NEWS – Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD), Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menyelenggarakan kegiatan Visiting Lecturer pada mata kuliah Konseling Lintas Budaya, Senin (8/6).

Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Lecturer Exchange Prodi BKI Tahun 2026 ini menghadirkan Nuril Hidayanti S., M.Pd., Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Mulawarman, sebagai narasumber. Ia membawakan materi bertema “Menjadi Konselor yang Peka Budaya: Memahami Konseling Lintas Budaya dan Indigenous Counseling di Indonesia.”

 

Kegiatan berlangsung pukul 10.00–11.40 WITA di Ruang Bimbingan Klasikal Laboratorium BK, Laboratorium Terpadu, Kampus II UINSI Samarinda. Perkuliahan ini menjadi pertemuan ke-15 mata kuliah Konseling Lintas Budaya bagi mahasiswa BKI semester IV Lokal 1 yang diampu oleh Rudy Hadi Kusuma, M.Pd.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami pentingnya kepekaan budaya dalam praktik layanan bimbingan dan konseling, terutama dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan masyarakat yang multikultural. Keberagaman suku, bahasa, nilai, tradisi, serta latar sosial menjadi aspek penting yang perlu dipahami oleh calon konselor dalam memberikan layanan kepada konseli.

Dalam pemaparannya, Nuril Hidayanti S., M.Pd. menegaskan bahwa keberagaman budaya di Indonesia berpengaruh terhadap cara individu berpikir, berkomunikasi, memaknai pengalaman, hingga menyelesaikan masalah. Karena itu, konselor tidak cukup hanya menguasai teori dan teknik konseling secara umum, tetapi juga perlu memahami nilai, identitas, bahasa, kebiasaan, dan latar sosial-budaya konseli.

Ia menjelaskan bahwa setiap konseli membawa pengalaman budaya yang unik. Oleh sebab itu, pendekatan konseling perlu dilakukan secara kontekstual, inklusif, dan bermakna. Konselor dituntut untuk tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga mampu memahami realitas budaya yang memengaruhi dinamika psikologis konseli.

Narasumber juga menguraikan urgensi konseling lintas budaya dalam menghadapi tantangan keberagaman. Menurutnya, konselor perlu memiliki kompetensi multikultural yang mencakup awareness, yaitu kesadaran terhadap nilai dan bias diri sendiri; knowledge, yaitu pengetahuan tentang karakteristik budaya konseli; serta skills, yaitu keterampilan intervensi yang relevan secara budaya.

Tanpa sensitivitas budaya, proses konseling berpotensi mengalami hambatan, seperti resistensi konseli, salah tafsir terhadap perilaku konseli, hingga kesalahan dalam memahami persoalan yang dihadapi konseli. Karena itu, pemahaman lintas budaya menjadi bekal penting bagi mahasiswa BKI sebagai calon konselor profesional.

Selain membahas konseling lintas budaya, kegiatan ini juga memperkenalkan konsep indigenous counseling, yaitu pendekatan konseling yang mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam praktik layanan. Pendekatan ini dinilai relevan dengan konteks masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai lokal, tradisi, spiritualitas, serta sistem sosial yang dapat menjadi sumber kekuatan dalam proses bantuan psikologis.

Melalui materi tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa praktik konseling tidak hanya bertumpu pada teori-teori Barat, tetapi juga perlu responsif terhadap keberagaman budaya dan kearifan lokal Indonesia. Mahasiswa juga merefleksikan pengalaman sehari-hari, seperti perbedaan suku, bahasa daerah, tradisi keluarga, serta potensi kesalahpahaman antarbudaya sebagai bagian penting dalam memahami dinamika konseli.

Program Studi BKI UINSI Samarinda berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa dalam mengembangkan sikap profesional sebagai calon konselor yang peka budaya, menghargai perbedaan, serta mampu merancang layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia.

Kegiatan Visiting Lecturer ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan atmosfer akademik Prodi BKI melalui kolaborasi keilmuan dengan dosen dari perguruan tinggi mitra.

Sebagai bentuk apresiasi, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam FUAD UINSI Samarinda memberikan penghargaan kepada Nuril Hidayanti S., M.Pd. sebagai narasumber pada kegiatan Lecturer Exchange Tahun 2026 dalam mata kuliah Konseling Lintas Budaya.

Sertifikat penghargaan tersebut ditandatangani oleh Dekan FUAD, Prof. Dr. H. Muhammad Abzar D., M.Ag., dan Koordinator Prodi BKI, Dr. Sai Handari, M.Pd.

Penulis: Rudy Hadi Kusuma, M.Pd.
Editor: Selvi Ramadhani (HUMAS)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»