Menuju Wajib Halal Oktober 2026: UINSI Samarinda Gelar 4th Halal Fest untuk Dongkrak Ekonomi Syariah

SAMARINDA, UINSI NEWS – Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan ekonomi syariah nasional. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) dan Pusat Kajian Halal (PUKAHA) bersama Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H), UINSI sukses menggelar 4th Halal Fest Pukaha UINSI Samarinda 2026.

Mengusung tema “Menyongsong Wajib Halal Oktober 2026: Bersama Wujudkan Ekosistem Produk Halal yang Unggul, Aman dan Berdaya Saing,” perhelatan tahunan ini menjadi momentum krusial dalam mengakselerasi sertifikasi halal, khususnya di wilayah Kalimantan Timur dan Indonesia pada umumnya.

Dalam sambutannya, Ketua Pusat Kajian Halal UINSI Samarinda, Hj. Maisyarah Rahmi HS, Lc, M.A., Ph.D, membagikan rekam jejak historis lembaga yang dipimpinnya. Berdiri pada 23 November 2018, gerakan ini diinisiasi oleh Fakultas Syariah di bawah kepemimpinan Dekan Prof. Dr. Hj. Darmawati, M.Hum.

Transformasi kelembagaan terus berjalan seiring beralihnya status IAIN menjadi UINSI Samarinda. Pada tahun 2022, pusat kajian ini bermutasi menjadi Pusat Studi Sertifikasi Halal di bawah naungan LP2M, yang kala itu dinakhodai oleh Devi Kasumawati, M.H., hingga akhirnya berkembang menjadi Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) seperti saat ini.

Capaian Strategis LP3H UINSI Samarinda hingga Juni 2026:

1.084 Pendamping PPH: Tersebar di 17 provinsi di Indonesia, terdiri dari unsur mahasiswa, dosen, masyarakat, hingga Penyuluh Agama Islam.

10.235 Sertifikat Halal (Self Declare):Telah diterbitkan secara nasional untuk memfasilitasi para pelaku usaha mikro dan kecil secara gratis.

174 Sertifikat Halal Reguler: Telah resmi diterbitkan per Juni 2026.

70 Titik Pendampingan SPPG: Sukses dikawal di wilayah Kalimantan Timur.

Ketua LP2M UINSI Samarinda, Prof. Dr. Bambang Iswanto, M.H., menekankan bahwa penguatan ekonomi dan keuangan syariah kini telah menjadi prioritas utama transformasi ekonomi nasional, bahkan telah diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Targetnya pun tidak main-main: membawa Indonesia menduduki peringkat pertama dalam pengembangan ekonomi syariah global.

“Saat ini Indonesia berada di peringkat ke-4 dalam Scope Global Economic. Indikator utamanya meliputi fashion, pariwisata, dan halal food yang hari ini menjadi fokus bahasan kita. Sertifikasi halal adalah pilar utama untuk mendongkrak posisi tersebut,” ujar Prof. Bambang.

Menghadapi implementasi Wajib Halal Oktober (WHO) 2026, Prof. Bambang menjelaskan perlunya kerja sama lintas sektoral karena BPJPH tidak dapat bergerak sendiri.

Di tingkat daerah, kolaborasi ini diwadahi oleh Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Kalimantan Timur yang diketuai langsung oleh Gubernur Kaltim dan diperkuat oleh BI Perwakilan Kaltim serta berbagai lembaga strategis. Manajemen rektorat dalam struktur ini bertindak sebagai direktur eksekutif yang berfungsi sebagai akselerator sekaligus orkestrator kolaborasi.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag. Dalam pidato pembukaannya, Prof. Zurqoni menegaskan bahwa esensi halal bagi masyarakat muslim melampaui selembar label pada kemasan produk.

“Halal adalah lifestyle (gaya hidup) yang mencerminkan kepatuhan kita kepada Allah SWT dan ajaran Islam. Ini adalah wujud tanggung jawab kita dalam menghadirkan produk yang aman, berkualitas, dan terpercaya,” tegas Rektor.

Beliau menambahkan bahwa memilih produk halal berkontribusi langsung pada penguatan ekonomi umat serta peningkatan daya saing produk lokal di kancah nasional maupun global. Melalui 4th Halal Fest ini, diharapkan sinergi antara instansi, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dapat semakin erat.

Di akhir sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada LP2M, PUKAHA, dan LP3H UINSI Samarinda, para narasumber, sponsor, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini.

Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»