Sebagaimana di Indonesia, kemampuan literasi dan matematika juga mendapat perhatian khusus dalam pendidikan di Jerman karena menjadi fondasi akademik bagi anak. Pada level sekolah dasar, upaya membangun motivasi anak untuk membaca merupakan langkah awal dalam meningkatkan kemampuan literasi mereka. Di Jerman, penguatan rasa cinta dan motivasi membaca merupakan tanggung jawab guru mata pelajaran bahasa Jerman (Deutsch). Meski begitu, sekolah juga menawarkan program dan aktivitas yang mendukung terbentuknya budaya dan rasa cinta untuk membaca. Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan berbagai pengalaman terkait program dan aktivitas yang mendukung tumbuhnya rasa cinta dan motivasi membaca di sekolah dasar tempat anak saya bersekolah.
Disclaimer: apa yang saya bagikan sepenuhnya mengacu pada pengalaman saya dan anak saya selama bersekolah di Grundschule St. Magnus, Bremen, Jerman. Perbedaan program dan aktivitas dengan sekolah lain di kota lain di Jerman sangat mungkin terjadi.
Jadwal rutin dibacakan buku (Vorlesezeit)
Tidak ada syarat kemampuan membaca untuk masuk sekolah dasar di Jerman. Dengan demikian, sebagian besar murid baru kelas 1 di Jerman belum bisa membaca. Oleh karena itu, pada tahap ini, guru berperan untuk membacakan buku cerita kepada anak secara rutin. Dan sebagaimana buku untuk anak usia kelas bawah pada umumnya, buku yang dibacakan minim teks dan lebih banyak ilustrasi sebagai bahan dialog dengan murid saat buku itu dibacakan.
Buku kecil/buku saku sebagai latihan di rumah (Büchlein)
Penampakan dari Büchlein (Dokumentasi pribadi)
Jika murid sudah mengenal beberapa huruf dan dapat merangkainya menjadi suku kata, mereka secara bertahap akan menerima buku-buku kecil sebagai sarana latihan membaca nyaring (Lautlesen). Buku tersebut awalnya berisi rangkaian huruf, suku kata, dan kata yang sudah dipelajari di sekolah. Kemudian isinya terus berkembang hingga menjadi sebuah cerita pendek, seiring dengan bertambahnya huruf yang mereka pelajari. Setiap murid membaca buku-buku kecil ini secara konsisten setiap hari di rumah, didampingi oleh orang tua mereka.
Lesepass (+ buku gratis)
Penampakan Lesepass dan buku gratis dari sekolah (Dokumen pribadi)
Pada tahap berikutnya, murid mendapatkan tantangan untuk membaca nyaring setiap hari selama minimal 10 menit. Aktivitas membaca tersebut didokumentasikan melalui Lesepass. Tujuan penggunaan Lesepass ini adalah untuk memotivasi murid untuk membaca setiap hari dengan mengumpulkan Lesepass sebanyak-banyaknya. Di dalamnya tercantum tanggal membaca, paraf ortu, dan judul buku yang dibaca (opsional). Selain buku cerita, murid juga bisa membaca buku-buku kecil mereka, ataupun bahan bacaan yang disediakan oleh guru. Berdasarkan pengalaman saya, sekolah juga memberikan buku bacaan gratis kepada murid untuk mendukung tantangan tersebut.
Bücherei
Penampakan buku yang dipinjam dari perpustakaan beserta kartu kontrol peminjamannya (Dokumentasi pribadi)
Yakni perpustakaan sekolah. Fasilitas ini juga berperan dalam mendukung tantangan membaca setiap hari. Menariknya, perpustakaan sekolah anak saya dijalankan oleh para relawan yang merupakan orang tua murid. Oleh karena itu, perpustakaan ini hanya buka pada hari-hari tertentu (hari pengembalian sekaligus peminjaman buku). Dari sisi keragaman buku bacaan, perpustakaan sekolah anak saya juga menyediakan berbagai buku multibahasa, termasuk bahasa Jerman-Indonesia (sayangnya, saya lupa mendokumentasikannya). Hal ini berawal dari survei kepada ortu tentang buku yang diperlukan sebagai dasar untuk menambah koleksi buku di perpustakaan sekolah. Kehadiran buku-buku tersebut sangat membantu bagi anak dan ortu yang bahasa ibunya bukan bahasa Jerman seperti saya dan keluarga.
Bücherkoffer
Penampakan Bücherkoffer beserta salah satu buku di dalamnya (Dokumentasi pribadi)
Artinya koper yang berisi buku-buku bacaan. Ini adalah sebuah proyek yang mendukung aktivitas membaca anak usia TK dan SD di wilayah Bremen dan Bremerhaven. Setiap anak menerima sebuah koper berisi beragam buku bacaan (multibahasa) yang bisa mereka manfaatkan selama sepekan. Setelah sepekan, koper akan diserahkan kepada anak berikutnya berdasarkan urutan yang ditetapkan di kelas masing-masing. Berdasarkan pengalaman anak saya, dia akan mendapatkan dua koper yang berbeda selama satu tahun.
Hari membaca nyaring nasional (Bundesweiter Vorlesetag) dan pasar buku loak (Bücherflohmarkt)
Pada hari itu, terdapat beberapa stand yang menawarkan program Vorlesen (dibacakan). Murid dapat dengan bebas memilih topik bacaan yang ingin mereka simak. Di sekolah anak saya, peringatan hari ini ditutup dengan pasar loak buku. Didampingi orang tua, setiap murid membawa koleksi buku bacaan yang ingin mereka jual. Di saat yang sama, murid lainnya bisa menemukan berbagai buku yang menarik dengan harga yang murah.
Itulah beberapa program dan aktivitas rutin yang mendukung tumbuhnya budaya membaca pada sekolah dasar di Jerman. Selain menumbuhkan minat membaca pada anak, program-program tersebut juga saya rasakan membantu anak-anak saya untuk menguasai bahasa Jerman dengan lebih baik. Meski begitu, sebagai keluarga muslim, saya tetap harus berhati-hati dalam memilih bahan bacaan anak. Misalnya, pemerintahan Jerman yang memberi ruang terhadap penyebaran LGBT berdampak pada buku bacaan yang disediakan sekolah sangat mungkin mengandung muatan tersebut. Pada akhirnya, aktivitas membaca anak perlu didampingi oleh orang tua sebagai bentuk dukungan akademik sekaligus sebagai penyaring bahan bacaan anak. Wallahu a’lam.
Tentang penulis:
Anwaril Hamidy, ayah dari 3 anak, dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, mahasiswa doktoral di University of Bremen.










