OlehSAMARINDA, UINSI NEWS, — Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menggelar rapat koordinasi Tim Kerja Persiapan Transformasi BLU dalam rangka percepatan transformasi pengelolaan keuangan menjadi Badan Layanan Umum (BLU), Jumat (6/11). Rapat yang dibuka Ketua Tim Perencanaan dan Keuangan UINSI Samarinda, Abdul Wahid, S.Pd.I., M.Pd., ini menghadirkan narasumber dari UIN Salatiga dan Kementerian Agama RI untuk berbagi pengalaman penyusunan dokumen dan dinamika lapangan.
Dalam sambutannya, Abdul Wahid menyampaikan sejumlah butir agenda rapat: pembahasan rencana kerja, dokumen yang akan dihasilkan beserta jadwal penyelesaiannya, penetapan kebutuhan data dan mekanisme komunikasi antar-tim yang saling terkait, serta evaluasi dan penanganan kendala selama masa persiapan hingga sekitar Juni. “Dari beberapa hasil kesepakatan pembahasan nanti akan kita buat sebagai berita acara, dan rencana kerja itu yang bisa kita jadikan acuan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tim baru benar-benar bekerja secara formal pada tahap ini. “Terus terang, kalau kita bicara hari ini kita nol sama sekali. Baru betul-betul kita formal dan tahapannya harus kita laksanakan sesuai alurnya,” kata Wahid, seraya mengenang gagasan serupa yang pernah dirintis dua tahun lalu dengan ketua tim Rektor dan dirinya sebagai sekretaris, namun tertunda karena kondisi saat itu.
Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UINSI Samarinda, Dr. H. Taufik Rahman, S.Ag., M.Pd., menekankan bahwa kegiatan ini penting untuk menyamakan versi dan persepsi seluruh anggota tim. “Hari ini kita bahas peran masing-masing, setelah itu kita bikin peta jalan. Peta jalan itu berdasarkan tahapan-tahapannya, dan pada akhirnya dokumen disampaikan selesai di bulan Juni,” jelasnya.
Ia berharap seluruh tim berkomitmen sungguh-sungguh. “Persiapan BLU ini tidak gampang, harus kita persiapkan dengan matang,” tambahnya, sekaligus menyambut kehadiran narasumber dari UIN Salatiga sebagai bahan brainstorming atas persoalan yang akan dihadapi.
Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., menegaskan bahwa transformasi menjadi BLU bukan sekadar mengejar ketertinggalan dari perguruan tinggi keagamaan negeri lain. “Kita perlu segera mewujudkan ini, bukan karena semata-mata kita ketinggalan, tetapi tentu ada sisi plus dari perubahan status,” tuturnya.
Menurut Rektor, BLU memberi ruang pengelolaan anggaran yang lebih fleksibel, terutama karena saat ini seluruh anggaran bersumber dari rupiah murni dan PNBP yang plafonnya telah ditetapkan pusat. “Hari ini anggaran pemeliharaan tidak bisa menjangkau semua kebutuhan plafon ruang kuliah, toilet yang perlu pemeliharaan padahal itu sudah kita siasati,” ujarnya. Ia menyebut syarat pendapatan minimal Rp100 miliar sebagai pembanding, dengan UIN Surakarta sebagai contoh kampus yang telah siap, serta rencana rekrutmen PNS dalam jumlah besar pada awal 2027.
Ketua Tim Perencanaan Biro UAPK UIN Salatiga, Yusuf Ismail, S.H., menyebut Rencana Strategis Bisnis (RSB) sebagai “jantung” proposal dengan batas maksimal 30 halaman, sementara lampirannya memuat data keuangan, kinerja, dan layanan. “Yang paling susah nanti ada di situ. Karena itu dibutuhkan tim kerja yang bagus, dan tim itu harus sering kumpul,” katanya. Ia juga mengingatkan agar target pendapatan disusun realistis, konsisten antar-dokumen, dan jangan bergantung pada satu-dua orang.
Sementara itu, Kasubtim Perencanaan dan Penganggaran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Dirjen Pendis Kemenag RI, Novardy, S.Kom., M.Kom., menyarankan agar UINSI merapikan tata kelola dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebelum menyusun RSB. Ia juga mendorong uji publik internal kampus, lalu diskusi dengan kampus yang telah berstatus BLU, sebelum proposal diajukan.
Rapat ditutup dengan penyusunan berita acara dan komitmen bersama seluruh anggota tim untuk bekerja sesuai tahapan yang telah disepakati.
Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati














