SAMARINDA, UINSINEWS, — Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda terus menunjukkan peran aktifnya dalam mentransformasi pendidikan Islam berbasis lingkungan.
Melalui program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), tim mahasiswa UINSI Samarinda sukses menggagas workshop edukatif karya seni eco-print berlandaskan gagasan Eko-Teologi Kementerian Agama RI, bertempat di MIN 2 Samarinda. Kamis, (5/10).
Gagasan Eko-Teologi yang digelorakan Kemenag menekankan bahwa agama bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral-spiritual untuk menjaga dan merawat alam (khalifah fil ardh).
Inisiatif ini diterjemahkan secara kreatif oleh mahasiswa PPL UINSI ke dalam bentuk pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Dengan memanfaatkan lingkungan sekolah yang asri, para siswa diajak mengeksplorasi serat dan pigmen alami dari dedaunan sekitar untuk menghasilkan karya kain bermotif estetik tanpa bahan kimia berbahaya.
Dosen Supervisor PPL UINSI Samarinda, Dr. Muhammad Ridho Muttaqin, M.Pd., menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah konkret Kampus UINSI dalam mendukung agenda prioritas Kemenag RI, sekaligus melahirkan pendidik masa depan yang inovatif dan berwawasan lingkungan.
“Eko-Teologi Kemenag mengajarkan bahwa merawat bumi adalah bagian mendasar dari keimanan dan bentuk ibadah yang nyata. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa PPL UINSI tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga membawa paradigma baru agar prinsip Green Religion dan nilai-nilai konservasi alam dapat dihayati serta dipraktikkan oleh siswa sejak dini,” tegas Dr. Muhammad Ridho Muttaqin.
Langkah inovatif ini disambut hangat oleh pihak sekolah mitra. Kepala MIN 2 Samarinda, Bapak Tajudin, M.Pd., menilai kehadiran mahasiswa PPL UINSI sangat sejalan dengan visi madrasah berwawasan lingkungan dan penguatan karakter peserta didik.
“Kami di MIN 2 Samarinda sangat mengapresiasi terobosan dari mahasiswa UINSI. Kolaborasi ini sangat inline dengan pembumian Eko-Teologi di lingkungan madrasah. Anak-anak tidak hanya belajar keterampilan seni, tetapi juga diajarkan pemahaman spiritual bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian alam sekitar adalah cerminan dari akhlak mulia seorang muslim,” ungkap Tajudin.
Selama workshop berlangsung, suasana belajar terasa hidup dan interaktif. Para siswa diajak berkreasi menggunakan teknik ketok (pounding method), menyusun pola daun di atas media kain, hingga menghasilkan karya batik ramah lingkungan yang menawan.
Melalui sinergi akademis ini, UINSI Samarinda membuktikan kapasitasnya sebagai kampus pencetak agen perubahan di bidang pendidikan Islam, sementara MIN 2 Samarinda makin mengokohkan diri sebagai madrasah percontohan yang adaptif dan siap mencetak generasi cerdas, berakhlak, serta responsif terhadap isu-isu kelestarian lingkungan.








