SAMARINDA, UINSI NEWS – Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menyelenggarakan acara penting dalam upaya memperkuat pendidikan inklusif.Melalui Seminar Inklusi: Mewujudkan Komunikasi yang Inklusif melalui Pelatihan Bahasa Isyarat, dosen dan tenaga kependidikan serta CPNS UINSI tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi belajar bagaimana cara berkomunikasi dari sudut pandang penyandang disabilitas pendengaran. Kamis (12/2).
Acara yang diselenggarakan di Aula Lt. 3 Rektorat Kampus 2 UINSI ini dibuka secara resmi oleh Dr. Umar Fauzan, M.Pd., Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UINSI mewakili Kepala LP2M UINSI.
Dalam sambutannya, Dr. Umar Fauzan mengapresiasi kontribusi narasumber dan moderator dalam memberikan wawasan baru mengenai pentingnya komunikasi inklusif bagi penyandang disabilitas. Beliau menegaskan bahwa UINSI harus terus mendukung pendidikan yang setara bagi semua kalangan, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. “Pelatihan ini menjadi langkah awal yang penting untuk mewujudkan kampus yang ramah terhadap penyandang disabilitas,” ujar Dr. Umar Fauzan.
Sebagai moderator, Rumainur, M.Pd.I., Kepala Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UINSI, menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir dan berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman tentang komunikasi yang inklusif. Ia berharap, ke depan, UINSI dapat memberikan layanan yang setara kepada mahasiswa penyandang disabilitas, baik dalam proses belajar mengajar maupun di kehidupan sehari-hari.
Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Andri Irawan, seorang juru bahasa isyarat, dan Retno Inggit Aprilianingsih, Penasehat Ikatan Komunitas Tuli (IKAT) Samarinda. Dalam sesi pertama, Andri Irawan dan Retno Inggit memaparkan tentang perbedaan antara “tunarungu” dan “tuli” serta cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas pendengaran. Mereka juga menyampaikan pentingnya memahami budaya Tuli sebagai bagian dari keberagaman budaya dunia, dan bagaimana cara berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat, baik secara langsung, tulisan, atau lisan.
Sesi yang paling dinantikan adalah pelatihan langsung mengenai bahasa isyarat Indonesia (BISINDO). Para peserta aktif mempelajari berbagai isyarat dasar, seperti abjad, sapaan, dan ucapan sehari-hari, yang disampaikan langsung oleh Retno Inggit, yang juga seorang penyandang tunarungu. Antusiasme peserta terlihat jelas ketika mereka mencoba mengucapkan salam dan kata-kata sederhana dalam bahasa isyarat, seperti “Assalamualaikum,” “Selamat pagi,” dan “Terima kasih.”
Seminar ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi seluruh peserta dalam mempersiapkan diri untuk menciptakan komunikasi yang inklusif dan ramah terhadap penyandang disabilitas. “Semoga UINSI bisa terus menjadi lembaga pendidikan yang ramah difabel dan memberikan kontribusi positif dalam pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia,” ujar Rumainur, M.Pd.I., di akhir acara.
Dengan semangat inklusif ini, UINSI terus berkomitmen untuk mendukung keberagaman dan kesetaraan dalam pendidikan, seiring dengan upaya menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan memberdayakan semua lapisan masyarakat.
Penulis: Selvi Ramadhani
Editor: Nisa Rahmawati












