SAMARINDA, UINSI NEWS — Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menghadirkan forum akademik pada agenda kuliah umum dengan menghadirkan Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung, S.H., M. H., Tenaga Ahli Menteri Agama Bidang Hukum, HAM, dan Kerukunan Umat Beragama. Jumat, (13/2)
Kuliah umum ini bertujuan memberikan pencerdasan wawasan kebangsaan, maupun keagamaan, serta komitmen terhadap harmoni sosial di tengah kemajemukan bangsa.
Wakil Rektor Prof. Dr. Muhammad Nasir, M. Ag., bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, dalam sambutannya mewakili Rektor menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran narasumber yang telah berkenan memberikan pengayaan keilmuan serta berbagi pengalaman demi pengembangan institusi. Prof. Nasir menegaskan bahwa kehadiran tenaga ahli Menteri Agama menjadi energi positif dalam memperkokoh peran UINSI sebagai kampus moderasi beragama dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Dalam pemaparannya, Prof. Salman menyampaikan kebanggaannya terhadap Provinsi Kalimantan Timur yang berhasil meraih Harmoni Award dari Kementerian Agama RI selama dua tahun berturut-turut.
Prestasi tersebut dinilai sebagai buah dari komitmen masyarakat dalam menjaga kerukunan dan merawat keberagaman antarumat beragama.
Beliau menegaskan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia menjadi sorotan internasional dalam praktik kerukunan beragama.
Namun demikian, kemajemukan tidak serta-merta menghadirkan harmoni dan kedamaian. Keberagaman juga menyimpan potensi tantangan berupa intoleransi, radikalisme, bahkan konflik sosial berbasis agama jika tidak dikelola dengan bijak.
Oleh karena itu, Kementerian Agama yang kini dipimpin oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar telah menetapkan program prioritas yang dikenal sebagai Asta Protas Kemenag Berdampak. Salah satu fokus utamanya adalah peningkatan kualitas umat beragama, penguatan ekoteologi, dan penumbuhan cinta kemanusiaan.
Program ini dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Lebih lanjut disampaikan bahwa fondasi utama dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan adalah kuatnya kerukunan dan cinta kemanusiaan.
Agama, menurut beliau, hadir untuk memanusiakan manusia dan merajut persaudaraan sesama umat manusia. Dalam konteks kebangsaan, kemajemukan Indonesia dipandu oleh tiga norma hukum, yakni norma filosofis bangsa, norma fundamental negara, dan norma hukum positif.
Tugas Kementerian Agama, tegasnya, adalah mendekatkan umat kepada ajaran agamanya secara substansial, sehingga agama menjadi sumber kedamaian, bukan konflik.
Harmoni bukan sekadar keadaan yang dinikmati sebagai bangsa, melainkan kontribusi besar Indonesia bagi peradaban dunia.
Menutup kuliah umum, beliau mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Seluruh elemen masyarakat, termasuk sivitas akademika UINSI, diharapkan terus mengampanyekan nilai saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan akademik.
Penulis : Novan Halim | Editor Nisa Rahmawati










