AISYAH ISTRI RASULULLAH SAW ; Ketika Lagu Cinta Mengajak Kita Belajar dari Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW

Oleh: Darmawati Wakil Dekan 1 FEBI UINSI Samarinda

Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merah di pipimu

Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rasulullah

Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga Nabi minum di bekas bibirmu

Bila marah, Nabi kan bermanja
Mencubit hidungnya

Aisyah…
Romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan baginda kau pernah main lari-lari

Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau di samping Rasulullah…

Aisyah…
Sungguh manis oh sirah kasih cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu

Kau istri tercinta Ya Aisyah Humairah…
Rasul sayang, kasih, Rasul cintamu

Demikian sebuah lagu religi yang pernah begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia : Aisyah Istri Rasulullah. Lagu ini bukan sekadar menghadirkan kisah cinta seorang istri kepada suaminya. Di balik popularitasnya, lagu tersebut membawa pendengar untuk mengenal sosok Sayyidah Aisyah RA, salah seorang istri Rasulullah SAW yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam sejarah Islam.

Lagu tersebut sebenarnya merupakan adaptasi bernuansa religi dari lagu Aisyah yang dipopulerkan oleh Projector Band dari Malaysia. Dalam perkembangannya, lirik lagu tersebut digubah menjadi kisah tentang kecintaan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA. Popularitasnya kemudian semakin luas setelah dinyanyikan oleh sejumlah penyanyi dan grup musik religi di Indonesia, diantaranya Anisa Rahman, Syakir Daulay, Nissa Sabyan.
Menariknya, sejumlah gambaran dalam lagu tersebut ternyata memiliki titik temu dengan hadis-hadis Nabi SAW dan dari lagu tersebut dapat memposisikan sebagai pintu masuk untuk mengenal kehidupan Rasulullah SAW dan Aisyah RA melalui sumber hadis yang sahih.

Aisyah RA : Sosok yang Istimewa
Bagian awal lagu menggambarkan Aisyah sebagai perempuan yang cantik, indah, dan memiliki tempat istimewa di hati Rasulullah SAW. Gambaran mengenai keistimewaan Aisyah RA bukan semata-mata imajinasi dalam lagu. Rasulullah SAW sendiri pernah menjelaskan keutamaannya.

Dalam Shahih al-Bukhari nomor 3769, Abu Musa al-Asy’ari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

Artinya: “Banyak laki-laki yang mencapai kesempurnaan, tetapi di antara perempuan tidak ada yang mencapai kesempurnaan kecuali Maryam putri Imran dan Asiyah, istri Fir’aun. Dan keutamaan Aisyah atas perempuan lainnya seperti keutamaan tsarid atas makanan lainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3769).

Hadis ini menunjukkan bahwa Aisyah RA mempunyai kedudukan yang sangat istimewa. Perumpamaan tsarid makanan yang dianggap istimewa dalam tradisi Arab menggambarkan keunggulan Aisyah di antara para perempuan. Karena itu, ketika lagu menggambarkan Aisyah RA sebagai sosok yang istimewa, kita menemukan kesesuaian dengan hadis. Namun, keistimewaan Aisyah RA tidak boleh dipahami hanya dari sisi kecantikan.

Aisyah RA juga merupakan perempuan berilmu. Ia menjadi salah satu periwayat hadis yang banyak dan menjadi rujukan para sahabat dalam berbagai persoalan agama. Sebanyak 2.210 hadis diriwayatkannya. Aisyah dikenal sebagai orang yang jujur, banyak beribadah, tahajud, dan berpuasa. Dengan demikian, kecantikan Aisyah hanyalah salah satu bagian dari sosoknya. Yang jauh lebih penting adalah ilmu, ketakwaan, kecerdasan, dan kontribusinya bagi umat Islam.

Salah satu daya tarik lagu Aisyah Istri Rasulullah adalah gambaran hubungan Rasulullah SAW dan Aisyah RA yang sangat dekat. Dalam bayangan sebagian orang, sosok Nabi SAW terkadang hanya digambarkan dalam suasana yang sangat formal: berdakwah, memimpin umat, beribadah, dan berjihad. Padahal, hadis-hadis menunjukkan sisi kehidupan Nabi SAW yang sangat manusiawi, termasuk bagaimana beliau berinteraksi dengan istrinya. Aisyah RA pernah menceritakan:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلَانَا جُنُبٌ

Artinya:
“Aku dan Nabi ﷺ pernah mandi dari satu bejana, sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. Al-Bukhari no. 299).

Hadis tersebut memberikan gambaran sisi romantis beliau dengan Aisyah RA. Kehidupan keluarga Nabi SAW ternyata tidak hanya berisi kewajiban dan pembicaraan serius. Ada keakraban, kebersamaan, dan ruang untuk menunjukkan kasih sayang.

Pelajaran ini sangat relevan bagi keluarga masa kini. Rumah tangga yang Islami bukanlah rumah tangga yang kering dari ekspresi cinta. Justru Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa kasih sayang kepada pasangan merupakan bagian dari kehidupan suami isteri.

Cinta dalam Hal-hal Sederhana Cinta dalam rumah tangga tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Kadang-kadang cinta hadir melalui tindakan yang sangat sederhana: makan bersama, berbagi minuman, memperhatikan pasangan, atau sekadar berada di dekatnya.

Aisyah RA menceritakan bahwa ketika ia sedang haid, ia minum dari sebuah wadah, kemudian memberikan wadah tersebut kepada suaminya tercinta dan Nabi SAW meletakkan mulut beliau pada bagian yang sama dengan tempat Aisyah RA minum. Aisyah juga menceritakan bahwa ia pernah makan daging dari tulang, lalu menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau makan dari bagian yang sama.
Hadis tersebut diriwayatkan dalam Shahih Muslim :

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ…

Artinya secara ringkas: Aisyah RA menjelaskan bahwa ketika ia sedang haid, Rasulullah ﷺ tetap minum dari tempat yang sama dan makan dari bagian yang sama dengannya. (HR. Muslim no. 300).

Ini adalah gambaran cinta yang sederhana tetapi sangat dalam. Rasulullah SAW tidak menjauh hanya karena Aisyah RA sedang mengalami menstruasi. Beliau memahami bahwa menstruasi adalah bagian alami dari kehidupan perempuan.

Pesannya jelas: menjadi suami yang baik berarti memahami kondisi istri, bukan hanya menuntut istri memahami dirinya.
Aisyah RA Juga Manusia yang Bisa Cemburu
Lagu romantis terkadang membuat kita membayangkan rumah tangga Rasulullah ﷺ sebagai rumah tangga yang selalu sempurna tanpa masalah. Padahal hadis menunjukkan sesuatu yang lebih realistis.

Aisyah RA pernah merasakan cemburu kepada Khadijah RA. Ia bahkan mengatakan bahwa tidak ada istri Nabi SAW yang membuatnya merasa cemburu sebesar Khadijah RA, meskipun Aisyah sendiri tidak pernah bertemu dengannya.

Dalam Shahih al-Bukhari nomor 3818 disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering menyebut Khadijah RA dan tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat Khadijah RA. Aisyah RA kemudian mengungkapkan rasa cemburunya.

Ini memberikan pelajaran penting bagi pasangan suami istri. Cemburu adalah perasaan manusiawi. Yang menjadi persoalan bukan hadirnya perasaan, tetapi bagaimana perasaan itu dikelola.

Rasulullah SAW tidak menghapus kemanusiaan Aisyah RA. Beliau memahami emosinya. Karena itu, rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang tidak pernah memiliki rasa cemburu, kecewa, atau perbedaan pendapat. Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang mampu mengelola perasaan tersebut dengan kasih sayang dan komunikasi.

Rasulullah saw Bahkan Bercanda dengan Aisyah
Salah satu kisah yang paling menarik adalah perlombaan antara Rasulullah ﷺ dan Aisyah RA. Dalam Sunan Abu Dawud nomor 2578, Aisyah RA menceritakan bahwa ia pernah berlomba lari dengan Rasulullah SAW. Pada kesempatan tersebut, Aisyah RA berhasil mengalahkan beliau. Pada kesempatan berikutnya, Rasulullah SAW berhasil mengalahkan Aisyah RA.

Bayangkan betapa hangatnya sebuah rumah tangga ketika seorang suami yang memiliki kedudukan sangat agung masih menyempatkan diri bermain dan berlomba dengan istrinya.
Rasulullah SAW adalah pemimpin umat, Nabi Allah SWT, dan manusia yang memiliki tanggung jawab sangat besar. Tetapi beliau tetap memberikan ruang bagi kebahagiaan bersama keluarga. Inilah pelajaran yang sangat relevan bagi keluarga modern.

Kesibukan mencari nafkah, mengejar karier, mengurus pekerjaan, bahkan aktivitas dakwah sekalipun tidak seharusnya membuat seseorang lupa membangun kedekatan dengan keluarganya.

Cinta yang Berakhir di Sisi Kekasih
Bagian paling mengharukan dari kisah Rasulullah SAW dan Aisyah RA adalah saat wafatnya Rasulullah SAW.
Aisyah RA meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari:

مَاتَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَإِنَّهُ لَبَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي

Artinya: “Nabi SAW wafat ketika beliau berada di antara dada dan daguku.” (HR. al-Bukhari no. 4446).
Riwayat ini sangat menyentuh.

Bayangkan perjalanan sebuah rumah tangga: dimulai dengan perkenalan, kebersamaan, kasih sayang, canda, kecemburuan, kesabaran, dan akhirnya berujung pada sebuah perpisahan karena kematian.

Aisyah RA berada di sisi Rasulullah ﷺ pada detik-detik terakhir kehidupan beliau. Di sinilah kita menemukan makna cinta yang lebih dalam daripada sekadar romantisme. Cinta bukan hanya tentang siapa yang menemani kita ketika bahagia, tetapi juga siapa yang tetap berada di sisi kita ketika kehidupan sedang menuju akhir.

Kisah Aisyah RA dan Rasulullah SAW sesungguhnya bukan hanya kisah romantis. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana membangun rumah tangga. Dari Rasulullah SAW kita belajar bahwa seorang suami haruslah sering bercanda dengan istrinya, menunjukkan rasa cinta, memperhatikan hal-hal kecil.

Dari Aisyah RA kita belajar bahwa seorang istri juga memiliki perasaan. Ia bisa cemburu, bahagia, sedih, dan kecewa. Tetapi semua itu tidak mengurangi kemuliaannya.

Maka, ketika lagu Aisyah Istri Rasulullah kembali terdengar, semestinya kita tidak hanya terpesona oleh keindahan kisah cintanya.Lebih jauh dari itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita memperlakukan pasangan sebagaimana Rasulullah SAW memperlakukan keluarganya?
Sudahkah seorang suami memberikan waktu kepada istrinya?
Sudahkah seorang istri menghargai suaminya?
Sudahkah pasangan suami istri mampu bercanda bersama?
Sudahkah kita belajar mengapresiasi kelebihan pasangan ? dan memahami kelemahan pasangan?
Penulis pun sudah 33 tahun menikah (1 September 1993). 33 tahun bukan perjalanan yang selalu indah. Ada tawa, sedih, ada perbedaan pendapat, pasang dan surut yang menguji.

Seperti sungai Mahakam yang kadang pasang dan surut. Namun, dari setiap episode kehidupan, kami belajar bahwa cinta membutuhkan kesabaran, pengertian, dan keikhlasan. Kami terus berusaha meneladani rumah tangga Rasulullah SAW: saling menghargai, memaafkan, menjaga, dan bertumbuh bersama dalam ridha-Nya.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Furqan [25]: 74

Doa ini sangat indah untuk direnungkan dalam perjalanan rumah tangga—bukan hanya memohon pasangan yang membahagiakan, tetapi juga agar suami, istri, dan anak keturunan menjadi penyejuk hati serta bersama-sama tumbuh dalam ketakwaan kepada Allah SWT. ❤️

Tentu beb ❤️ Berikut beberapa pantun Maulid Nabi ﷺ yang cocok untuk acara resmi, sambutan, maupun dibacakan di depan jamaah:

Burung merpati terbang ke awan,
Hinggap sebentar di atas dahan.
Nabi Muhammad SAW teladan insan,
Akhlaknya mulia sepanjang zaman.

Ke pasar pagi membeli buah delima,
Buah alpukat dan juga buah naga
Mari rayakan Maulid Nabi bersama,
Dengan shalawat penuh cinta.

Pergi haji menuju Makkah,
Melihat Ka’bah hati bahagia.
Rasulullah SAW pembawa berkah,
Rahmat bagi seluruh dunia.

Mentari pagi bersinar terang,
Burung berkicau di pohon kayu.
Shalawat Nabi mari dikumandangkan,
Semoga syafaat menyertai selalu.

Sungguh harum daun pandan
Dirangkai dengan bunga Melati

Mari jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan

Agar rumah tangga bahagia abadi

 

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»