SAMARINDA, UINSI NEWS, — Suasana kuliah yang berbeda terasa di atas Kapal Pesut Mahakam ketika Prof. Nur Kholis memberikan kuliah informal dan ramah tamah bersama mahasiswa Program Doktor Studi Islam pascasarjana UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda angkatan pertama tahun 2026. Kegiatan berlangsung sembari menyusuri Sungai Mahakam, menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga kontemplatif dan membangun keakraban antara dosen dan mahasiswa. Sabtu, (17/10).
Dalam paparannya, Prof. Nur Kholis menyampaikan dua persoalan pokok dalam kehidupan manusia, yaitu salah makan dan salah urus. Menurut beliau, “salah makan” bermakna bahwa apa yang kita makan akan menjadi baik apabila sesuai dengan kebutuhan tubuh. Namun, jika tidak terkendali, makanan justru dapat menjadi bumerang bagi kesehatan dan kehidupan seseorang.
Sementara itu, “salah urus” menurut Prof. Nur Kholis adalah kecenderungan manusia untuk terlalu memikirkan hal-hal yang berada di luar kendalinya, hingga akhirnya berlaku zalim terhadap diri sendiri. Beliau menekankan bahwa setiap persoalan hidup cukup dihadapi, karena pada akhirnya harus dilewati dan dijalani. Istilah Jepang atarimae (当たり前), yang bermakna menerima dan menjalani sesuatu sebagai hal yang wajar, menjadi analogi untuk menggambarkan sikap menerima realitas tanpa kehilangan daya juang.
Lebih lanjut, Prof. Nur Kholis mengingatkan bahwa persoalan hidup tidak boleh diselesaikan hanya dengan logika manusia semata. Ia harus selalu didialogkan dengan Tuhan melalui teks wahyu, khususnya Al-Qur’an. Baginya, Al-Qur’an harus tetap “bergema” dalam kehidupan sebagai pedoman, bukan sekadar teks yang dibaca, tetapi nilai yang dihidupi dalam sikap, keputusan, dan perbuatan sehari-hari.
Beliau juga mengajak para mahasiswa doktoral untuk memahami bagaimana ulama klasik menjaga nilai-nilai wahyu agar terus tumbuh dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Menurutnya, para ulama tidak memperlakukan warisan keilmuan secara kaku, melainkan mengembangkannya melalui berbagai metodologi agar tetap relevan dengan tantangan setiap generasi.
Kuliah informal ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa Program Doktor Studi Islam angkatan pertama UINSI Samarinda untuk memperkuat kedalaman keilmuan, keteladanan akhlak, serta kesadaran spiritual dalam menjalani kehidupan akademik dan sosial.
Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati






