SAMARINDA, UINSI NEWS,— Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris Matematika (TAMA) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menyelenggarakan seminar pendidikan dengan tema “Strategi Cerdas Penulisan Karya Tulis Ilmiah di Era Digital: Memanfaatkan Teknologi dan AI Secara Bijak”.
Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Rektorat Lanta 3 UINSI Samarinda.
Seminar ini bertujuan memberikan pemahaman dan bimbingan kepada mahasiswa mengenai batasan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam menyusun karya tulis ilmiah. Jumat, (16/10).
Mengutip liputan dari LPM Cakrawala, Ketua Panitia, Della Rahmawati, menyampaikan bahwa pemilihan tema ini merupakan hasil diskusi dengan Kepala Program Studi Tadris Matematika, merespons maraknya penggunaan AI oleh mahasiswa dalam mengerjakan tugas makalah hingga tugas akhir.
Turut hadir memberikan sambutan sekaligus mewakili Kepala Program Studi Tadris Matematika, Bapak Firnanda Pradana Putra, M.Pd. Kehadirannya menegaskan dukungan penuh dari pihak program studi terhadap inisiatif HMPS TAMA dalam merespons perkembangan teknologi secara adaptif, sekaligus menjaga integritas dan kualitas akademik mahasiswa di lingkungan UINSI Samarinda.
Untuk membedah tuntas tema tersebut, panitia menghadirkan Bapak Refi Riduan Achmad, S. Pd., M.Kom., Dosen Universitas Nahdlatul Ulama, sebagai narasumber utama karena kecakapannya di bidang teknologi dan kepenulisan akademik. Sesi pemaparan materi dan diskusi interaktif ini dipandu dengan baik oleh Ibu Siti Maulida Hasanah, S.Mat., M.Si selaku moderator.
Sementara itu, Ketua Umum HMPS Tadris Matematika, Lulu Najwa Rosdahlianti, berharap kegiatan ini dapat menjadi fondasi bagi mahasiswa agar tetap mampu menulis karya ilmiah dengan baik dan benar di tengah perkembangan teknologi.
Respons positif juga datang dari peserta seminar. Alfi Yanti Shaqinah, salah satu peserta, mengungkapkan pemahaman barunya terkait etika akademik.
“Sebagai mahasiswa kita boleh menggunakan AI, tetapi AI tersebut hanya sebagai alat kita untuk mencari referensi dan bertukar pikiran. Dengan kata lain, kita yang mengendalikan AI dan bukan AI yang mengendalikan kita,” ungkapnya.
Seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang diskusi sesaat, melainkan mampu memicu semangat mahasiswa untuk terus mengedepankan orisinalitas pemikiran serta kebijaksanaan dalam memanfaatkan kecerdasan buatan.





