MESIR, UINSI NEWS, — menegaskan pentingnya penguatan ekoteologi serta peran agama dalam menjaga kesadaran kemanusiaan di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Penegasan tersebut disampaikan Menag saat menjadi pembicara pada konferensi internasional yang diselenggarakan Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir. Senin, (21/1).
Konferensi ini dihadiri Menteri Wakaf Mesir sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, serta para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Menteri Agama turut didampingi Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M. Hanafi dan Tenaga Ahli Menteri Agama Bunyamin Yafid.
Mengawali paparannya, Menag menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta apresiasi kepada Presiden Republik Arab Mesir, Abdel Fattah El-Sisi, atas dukungannya terhadap pelaksanaan konferensi internasional tersebut.
Dalam perspektif Islam, Menag menjelaskan bahwa tanggung jawab manusia tidak semata berkaitan dengan upaya mencari penghidupan, tetapi mencakup dimensi moral, amanah sosial, dan kewajiban memakmurkan bumi. Konsep ini, menurut Menag, menjadi landasan penting ekoteologi, yakni cara pandang yang menempatkan relasi manusia dan lingkungan dalam kerangka tanggung jawab etis dan amanah Ilahi.
Menag menegaskan bahwa bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Allah SWT yang harus dijaga keseimbangannya. Oleh karena itu, setiap bentuk pembangunan dan aktivitas profesi yang merusak harmoni lingkungan sejatinya bertentangan dengan tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban Islam.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Menag mengapresiasi gagasan Menteri Wakaf Mesir yang menempatkan pembangunan peradaban sebagai kewajiban keagamaan. Ia juga merujuk pemikiran Malik bin Nabi yang menegaskan bahwa peradaban tidak hanya ditentukan oleh kemajuan material, tetapi oleh kualitas moral, spiritual, dan kemanusiaan manusia yang mengelolanya.
Memasuki pembahasan era kecerdasan buatan, Menag menilai tantangan utama dunia profesi bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada upaya menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Dunia modern, tegasnya, tidak hanya membutuhkan tenaga profesional yang cerdas, tetapi juga beretika dan berintegritas.
Dalam konteks Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Menag menjelaskan bahwa Kementerian Agama terus berupaya mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesionalisme, sekaligus memperkuat etika kerja di lingkungan lembaga negara dan masyarakat. Perhatian khusus juga diberikan pada isu kecerdasan buatan dalam kaitannya dengan otoritas keagamaan dan etika pengetahuan.
Menag menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, maupun otoritas moral ulama. AI harus diposisikan sebagai instrumen pendukung, bukan sebagai sumber mandiri dalam penetapan fatwa atau bimbingan keagamaan.
Menutup paparannya, Menag menekankan bahwa tantangan global saat ini bukanlah kekurangan keahlian, melainkan krisis nilai. Oleh karena itu, kemajuan peradaban hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara akal yang maju, akhlak yang kokoh, serta tanggung jawab kemanusiaan yang berkelanjutan.
Sumber : https://kemenag.go.id/pers-rilis/bicara-ekoteologi-di-mesir-menag-jelaskan-peran-agama-dan-kemanusiaan-di-era-ai-Xt4F4





