SAMARINDA, UINSI NEWS,-Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda menggelar Webinar Nasional bertajuk “Gerakan Literasi Ekoteologis: Strategi Transformasi Sekolah Adiwiyata Nasional” pada Kamis (30/4/2026). Kegiatan yang berlangsung secara daring ini diikuti tidak kurang dari 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, meliputi kalangan sekolah, madrasah, hingga pesantren.
Webinar dibuka oleh Badrut Tamam, Kepala Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa tantangan lingkungan hidup saat ini semakin kompleks dan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga berbasis nilai etis dan spiritual.
“Kita dihadapkan pada krisis ekologis global seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga meningkatnya bencana alam. Di Indonesia, persoalan seperti deforestasi, pencemaran air, dan kebakaran hutan masih menjadi ancaman nyata, khususnya di Sumatra dan Kalimantan,” ujarnya.
Ia menyoroti kondisi Kalimantan Timur yang terdampak signifikan akibat aktivitas pertambangan, alih fungsi lahan, dan degradasi lingkungan. Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam memandang relasi manusia dengan alam.
Dalam perspektif teologis, ia mengutip firman Allah SWT:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan capaian UINSI Samarinda dalam UI GreenMetric World University Rankings 2025. UINSI menempati peringkat ke-15 pada kelompok PTKIN, peringkat ke-133 secara nasional, dan peringkat ke-1.342 dunia. Capaian ini, menurutnya, menjadi bukti komitmen kampus dalam mengintegrasikan pendidikan berbasis ekoteologi.
“Program Adiwiyata bukan sekadar pemenuhan indikator, tetapi transformasi budaya dan praktik nyata di lingkungan pendidikan. Di sinilah literasi ekoteologis menjadi kunci,” tambahnya.
Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, antara lain Muhammad Asmuni (Pengawas Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda), Heri Gunawan (Ketua Forum Adiwiyata Kota Samarinda), Hasan Basri (peraih Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri), serta M. Abdul Rahman (alumni Ponpes Lirboyo Kediri).
Para narasumber mengulas berbagai strategi implementatif dalam mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan, mulai dari penguatan kebijakan sekolah, integrasi kurikulum, hingga praktik nyata berbasis partisipasi warga sekolah.
Diskusi berlangsung dinamis. Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, terutama pada sesi tanya jawab yang interaktif. Berbagai pertanyaan seputar implementasi Adiwiyata dan integrasi nilai-nilai keagamaan dalam pendidikan lingkungan menjadi fokus utama diskusi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa transformasi menuju sekolah Adiwiyata Nasional memerlukan kolaborasi berbagai pihak serta penguatan nilai-nilai spiritual dalam membangun hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.
Webinar ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam menjawab krisis ekologis, tidak hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui pembentukan kesadaran dan tanggung jawab moral generasi masa depan.#




