SAMARINDA, UINSI NEWS,-Pendalaman materi dalam Webinar Literasi UINSI Samarinda kembali berlanjut dengan paparan komprehensif dari narasumber utama, Sai Handari, yang menekankan pentingnya pemahaman utuh terhadap perkembangan manusia sebagai fondasi pendidikan inklusif.
Dalam sesi pemaparannya, Sai Handari menjelaskan bahwa guru tidak cukup hanya menguasai materi ajar, tetapi juga harus memahami perkembangan fisik, emosional, hingga hakikat manusia sebagai peserta didik. Menurutnya, perkembangan fisik—yang juga disebut sebagai biological growth—merupakan aspek penting yang mencakup pertumbuhan otak, hormon, serta perubahan kemampuan tubuh seperti keterampilan motorik dan fungsi fisik lainnya.
“Guru perlu memahami bagaimana sistem syaraf, otot, kelenjar endokrin, hingga struktur tubuh memengaruhi proses belajar anak. Ini menjadi dasar dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat,” ujarnya.
Selain aspek fisik, ia juga menyoroti pentingnya perkembangan emosi dalam proses pendidikan. Emosi, menurutnya, merupakan kondisi biologis dan psikologis yang memengaruhi cara anak berpikir dan bertindak. Bahkan, emosi memiliki peran besar dalam membentuk komunikasi, kepribadian, serta kemampuan penyesuaian diri anak di lingkungan sosial.
“Anak tidak hanya belajar dengan akal, tetapi juga dengan perasaan. Jika aspek emosi diabaikan, maka proses pembelajaran tidak akan berjalan optimal,” tegasnya.
Sai Handari kemudian mengaitkan hal tersebut dengan konsep hakikat manusia yang terdiri dari lima dimensi utama: manusia sebagai makhluk Tuhan, kesatuan jasmani-rohani, individu yang unik, makhluk sosial, serta makhluk berbudaya. Kelima dimensi ini, menurutnya, harus menjadi landasan dalam merancang pembelajaran yang inklusif dan humanis.
Di sisi lain, ia juga mengungkapkan fakta empiris terkait kondisi disabilitas di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik melalui SUPAS 2015 menunjukkan bahwa sekitar 8,56 persen penduduk usia 10 tahun ke atas mengalami disabilitas, dengan variasi kesulitan mulai dari penglihatan, pendengaran, hingga gangguan kognitif dan emosional.
Selain itu, data tahun 2023 menunjukkan bahwa beberapa daerah, termasuk Kalimantan Timur, memiliki prevalensi disabilitas yang cukup signifikan. Kondisi ini semakin menegaskan urgensi pendidikan inklusif yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Sai Handari juga menyinggung fenomena generasi muda yang tidak terlibat dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, terdapat sekitar 8,99 juta anak muda Indonesia yang tergolong NEET (Not in Education, Employment, and Training) pada Agustus 2024, atau sekitar 20,3 persen dari total penduduk usia 15–24 tahun.
“Sebagian dari mereka terhambat oleh faktor disabilitas, akses pendidikan yang terbatas, hingga kondisi sosial ekonomi. Ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk dunia pendidikan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia menegaskan bahwa smart teaching dalam pendidikan inklusif bukan sekadar penggunaan teknologi, melainkan strategi pembelajaran yang cerdas, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan individu peserta didik.
“Guru harus bertransformasi menjadi fasilitator yang mampu memastikan setiap anak memiliki hak yang sama untuk mengakses dan mengekspresikan hasil belajar tanpa diskriminasi,” jelasnya.
Ia memaparkan sejumlah prinsip utama dalam smart teaching, yakni personalisasi pembelajaran, diferensiasi instruksional, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan ramah. Sementara itu, strategi implementatif meliputi identifikasi dini kebutuhan belajar, penggunaan media adaptif, pendekatan kooperatif, penilaian yang adil dan responsif, serta kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemangku kepentingan.
Paparan ini semakin memperkaya wawasan peserta webinar mengenai pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan inklusif. Tidak hanya berbasis metode, tetapi juga berakar pada pemahaman mendalam tentang manusia sebagai subjek utama pendidikan.
Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan mampu menjadi ruang yang benar-benar inklusif—tidak hanya membuka akses, tetapi juga memastikan setiap individu tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya.#





