Ustadz Abd Syakur Jelaskan Fikih Kurban dan Hikmah Pengorbanan dalam Webinar Spirit Literasi Idul Kurban

SAMARINDA, UINSI NEWS,-Webinar “Spirit Literasi Idul Kurban: Refleksi Pengorbanan, Iman, Ilmu, dan Kepedulian Sosial” yang diselenggarakan oleh Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bekerja sama dengan mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), Ma’had Al Jami’ah UINSI Samarinda, serta Takmir Masjid SAMS menghadirkan narasumber pertama, Ustadz Abd Syakur, Lc., M.H., Direktur Ma’had Al Jami’ah UINSI Samarinda.

Dalam pemaparannya bertema Fikih Kurban, Ustadz Abd Syakur menjelaskan bahwa kurban merupakan hewan ternak seperti unta, sapi, atau kambing yang disembelih pada Hari Raya Idul Adha maupun hari tasyrik sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Swt.

“Kurban adalah ibadah yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan pendidikan keimanan yang sangat mendalam,” jelasnya.

Ia memaparkan bahwa praktik kurban telah memiliki sejarah panjang sejak masa awal kehidupan manusia. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 27 dijelaskan tentang kurban Qabil dan Habil, kemudian dilanjutkan kisah monumental Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam Surah Al-Shaffat ayat 102–105 yang menjadi simbol ketundukan total kepada Allah Swt.

Menurutnya, dalam sejarah Islam, ibadah kurban mulai disyariatkan pada tahun kedua hijriah sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’.

Ustadz Abd Syakur juga menjelaskan dasar hukum ibadah kurban yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta ijma ulama. Salah satu dalil utama yang menjadi landasan ibadah kurban adalah firman Allah Swt. dalam Surah Al-Kautsar ayat 2:

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”

Selain itu, ia juga mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik ra. tentang pelaksanaan kurban Rasulullah Saw.

Dalam sesi materi, ia menjelaskan berbagai hikmah ibadah kurban, di antaranya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt., menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim AS, memperkuat rasa cinta kepada Allah dan sesama manusia, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

“Kurban mengajarkan kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan. Ibadah ini bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan solidaritas kemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga memaparkan sejumlah keutamaan atau fadilah ibadah kurban sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadis Nabi Muhammad Saw., di antaranya kurban menjadi amalan yang paling dicintai Allah pada Hari Raya Idul Adha, menjadi saksi di hari kiamat, hingga setiap bulu hewan kurban bernilai pahala kebaikan.

Dalam penjelasannya, Ustadz Abd Syakur menegaskan bahwa hukum kurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Namun dalam kondisi tertentu, kurban dapat menjadi wajib, seperti karena nazar.

Ia turut menjelaskan syarat-syarat orang yang berkurban, syarat sah hewan kurban, hingga ketentuan waktu penyembelihan yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari tasyrik.

Sesi webinar berlangsung semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan praktis seputar kurban disampaikan peserta, mulai dari hukum arisan kurban, penggabungan kurban dan aqiqah, kurban untuk orang yang telah meninggal, hingga penggunaan dana operasional kurban dari kas masjid.

Menjawab pertanyaan peserta terkait arisan kurban, Ustadz Abd Syakur menjelaskan bahwa praktik tersebut diperbolehkan dan sah selama memenuhi syarat-syarat kurban. Sementara terkait kurban untuk orang yang telah meninggal, ia menjelaskan bahwa mayoritas ulama membolehkan hal tersebut, terutama jika terdapat wasiat dari almarhum.

Ia juga menekankan pentingnya memahami fikih kurban secara benar agar masyarakat tidak hanya melaksanakan ibadah secara ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai spiritual dan sosial yang terkandung di dalamnya.

“Spirit Idul Kurban sejatinya adalah spirit pengorbanan, kepedulian, dan ketakwaan. Karena itu, ibadah kurban harus melahirkan kepekaan sosial dan memperkuat hubungan kemanusiaan di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Webinar berlangsung aktif dan interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi hingga akhir sesi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan literasi keagamaan dan pemahaman moderat di lingkungan kampus serta masyarakat luas.#

 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»