JAKARTA, UINSI NEWS,-Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Prof. Dr. H. Zurqoni, M.Ag., menjadi salah satu penulis buku Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar yang diluncurkan dalam rangkaian Rukun Festival 2026 di The Telkom Hub–Telkom Landmark Tower, Jakarta, Minggu (12/7/2026).
Peluncuran buku tersebut menjadi salah satu agenda utama Rukun Festival 2026 yang mengusung semangat memperkuat kerukunan, dialog lintas agama, dan diplomasi kemanusiaan sebagai kontribusi Indonesia bagi perdamaian global.
Buku Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar merupakan karya kolaboratif para akademisi, rektor, guru besar, dan intelektual Indonesia. Buku tersebut mendokumentasikan sekaligus merefleksikan pemikiran, kiprah, serta diplomasi kemanusiaan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.
Keterlibatan Prof. Zurqoni dalam penulisan buku tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademik UINSI Samarinda dalam diskursus keagamaan, moderasi beragama, kemanusiaan, dan perdamaian global.
Selain Prof. Zurqoni, buku ini juga melibatkan sejumlah akademisi dan intelektual dari berbagai perguruan tinggi serta disiplin keilmuan, di antaranya Masnun Tahir, Maimun, Farid F. Saenong, Muhammad Aras Prabowo, Idi Warsah, Abd. Wahid Arsyad, Mujiburrahman, Rosihon Anwar, Agustinus, Abd. Aziz, Hannani, Abdurrohman Kasdi, Wan Jamaluddin Z, Lukman Hakim, Ismail Fahmi Arrauf Nasution, Ridwan, Nurhayati, Darmawati, Ahmad Rajafi, Asef Umar Fakhruddin, Toto Suharto, dan Badrut Tamam.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, menyebut buku tersebut sebagai bagian dari ikhtiar akademik untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam pembangunan peradaban dunia.
“Buku ini merupakan ikhtiar akademik untuk menunjukkan bahwa humanisme religius dapat menjadi fondasi peradaban dunia yang lebih damai, adil, dan bermartabat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Idi Warsah memandang diplomasi agama sebagai jalan strategis dalam membangun kepercayaan antarbangsa melalui nilai spiritual dan kemanusiaan universal. Sementara Prof. Dr. Mujiburrahman menilai pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman merupakan modal penting yang dapat ditawarkan kepada dunia sebagai model kehidupan bersama secara damai.
Sejumlah penulis lainnya menyoroti berbagai dimensi penting dalam diplomasi agama. Prof. Dr. Rosihon Anwar menekankan pentingnya tafsir yang berorientasi pada nilai kemanusiaan, sedangkan Prof. Dr. Agustinus menempatkan dialog lintas iman sebagai bahasa bersama untuk membangun masa depan dunia yang lebih harmonis.
Prof. Dr. Abdurrohman Kasdi menegaskan bahwa perdamaian berkelanjutan harus dibangun melalui kolaborasi nilai, bukan semata-mata keseimbangan kekuatan politik. Adapun Prof. Dr. Wan Jamaluddin Z memandang moderasi beragama sebagai salah satu kontribusi strategis Indonesia bagi stabilitas dan perdamaian global.
Perspektif lain disampaikan Dr. Ismail Fahmi Arrauf Nasution yang menyoroti pentingnya literasi keagamaan inklusif sebagai benteng menghadapi polarisasi dan ekstremisme di era digital. Sementara Prof. Dr. Toto Suharto menekankan peran pendidikan dalam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab global.
Dalam sambutannya yang dimuat dalam buku tersebut, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menegaskan bahwa dunia membutuhkan pendekatan diplomasi yang menyentuh dimensi terdalam kemanusiaan.
“Dunia membutuhkan diplomasi hati, diplomasi kemanusiaan, dan diplomasi spiritual yang mampu menyentuh dimensi terdalam kehidupan manusia. Perdamaian yang sejati tidak lahir hanya dari kesepakatan formal, tetapi juga dari kesadaran moral bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki martabat dan hak yang sama untuk hidup secara damai,” kata Nasaruddin.
Peluncuran buku Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar dalam Rukun Festival 2026 sekaligus memperkuat gagasan Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan religious diplomacy di tingkat global.
Melalui delapan tema besar, mulai dari humanisme religius, tafsir sebagai fondasi diplomasi agama, spiritualitas, moderasi beragama, kesetaraan global, humanisme Islam, dialog lintas iman, hingga diplomasi peradaban, buku ini menawarkan paradigma bahwa agama dapat menjadi bahasa universal untuk membangun kepercayaan, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan menghadirkan perdamaian yang berkelanjutan.
Kehadiran Prof. Zurqoni sebagai salah satu penulis turut menegaskan peran perguruan tinggi keagamaan Islam, termasuk UINSI Samarinda, dalam menghadirkan gagasan akademik yang tidak berhenti di ruang kampus, tetapi juga berkontribusi terhadap percakapan global mengenai agama, kemanusiaan, dan perdamaian.#




