SAMARINDA, UINSI NEWS — UINSI Samarinda menerima audiensi Pemerintah Kabupaten Tana Tidung (KTT) untuk membahas rencana pembukaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Kabupaten Tana Tidung.
Pertemuan yang dihadiri langsung oleh Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, S.P., bersama H. Muhammad Saleh, S.Ag., M.Pd.I (Kakanwil Kemenag Prov Kaltara), H. Hamzah., S.Ag.,MM (Kepala Kemenag KTT), Uus Rusmanda.,A.Ks.,M.Hp (Asisten Pemerintahan dan Kesra KTT), Saharin K., S.Pi.,MH (Kaban Bappeda), Rinova, SE, M.Si (Kabid Pendis Kaltara ), Kepala Organisasi perangkat daerah Tana Tidung Kaltara beserta jajarannya ini berlangsung di Aula Rektorat Kampus 2 UINSI Samarinda, Senin (6/7).
Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., menyampaikan bahwa UINSI memiliki pengalaman serta perjuangan panjang dalam pengembangan kelembagaan, mulai dari Pendirian Sekolah Persiapan Institut Agama Islam (SPIAI) pada 18 Agustus 1963 menjadi STAIN, IAIN, hingga UIN. Pengalaman tersebut menjadi modal dalam mendukung pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Islam di daerah.
Prof. Zurqoni juga sampaikan berkat proses pengembangan kelembagaan tersebut kini UINSI memiliki empat fakultas, Program Pascasarjana, serta mengelola 33 program studi, termasuk tiga program doktor (S3). Selain perkuliahan tatap muka, UINSI juga menerapkan sistem blended learning untuk mendukung akses pendidikan yang lebih fleksibel.
Hadir bersama para Wakil Rektor, Kabiro AUPK, Ketua Senat, Para Guru Besar, dan Pejabat UINSI, Prof. Zurqoni menyambut baik audiensi ini dan siap duduk bersama membahas rencana pembangunan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Kabupaten Tana Tidung.
Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, S.P., menjelaskan bahwa daerahnya merupakan satu-satunya kabupaten di Kalimantan Utara yang belum memiliki perguruan tinggi. Melalui audiensi ini, Bupati Ibrahim Ali berharap kampus UINSI dapat mendukung terwujudnya cita-cita pembangunan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Kabupaten Tana Tidung tersebut.
Lebih lanjut, Bupati Ibrahim Ali memaparkan latar belakang geografis dan demografis KTT dengan lugas. Sebagai kabupaten termuda di Provinsi Kalimantan Utara, KTT kini menginjak usia 19 tahun dengan pembagian wilayah administratif atas 5 kecamatan dan 32 desa, serta dihuni oleh 30.315 jiwa per hari ini. Secara kewilayahan, daerah dengan luas 4.083 kilometer persegi ini terbelah oleh Sungai Sesayap.
Letak geografis KTT memang terbilang sangat strategis karena bertindak selaku simpul konektivitas darat yang menghubungkan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Bulungan, serta masih berada dalam satu hamparan daratan dengan Kabupaten Berau di Kalimantan Timur.
Tingginya urgensi pembukaan program studi keagamaan Islam di KTT juga ditopang oleh peta demografi keagamaan yang solid. Dari total populasi KTT, jumlah penduduk muslim tercatat mendominasi sebanyak 23.787 jiwa. Jika ditarik ke skala provinsi, total penduduk muslim di seluruh Kalimantan Utara mencapai 576.267 orang sehingga potensi calon mahasiswa dari Tana Tidung maupun kabupaten lain di Kalimantan Utara dinilai cukup besar untuk mendukung keberlangsungan kampus.
Bupati Ibrahim Ali juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tana Tidung telah menyiapkan lahan dan gedung yang siap digunakan sebagai lokasi perkuliahan.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UINSI Samarinda, Prof. Dr. Muhammad Nasir, M.Ag., menyampaikan bahwa kebutuhan tenaga pendidik dapat dipenuhi melalui pemberdayaan alumni UINSI yang berdomisili di Kalimantan Utara dan telah memenuhi kualifikasi akademik minimal magister (S-2). UINSI juga siap memberikan pendampingan dalam penyusunan kurikulum dan penjaminan mutu akademik.
Kedua belah pihak sepakat menindaklanjuti pembahasan melalui penyusunan langkah-langkah teknis. Prof. Zurqoni pun menyampaikan sejumlah opsi terkait pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Kabupaten Tana Tidung yang akan ditelaah dan dipertimbangkan bersama untuk kemudian dikoordinasikan dengan Kementerian Agama RI sesuai aturan berlaku.
Penulis: Novan Halim Editor: Nisa Rahmawati











