Kajian Tafsir UINSI Samarinda Ajak Jamaah Muhasabah, Mengenali Tiga Golongan Manusia dalam Al-Qur’an

SAMARINDA, UINSI NEWS, – Al-Qur’an tidak hanya memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan, tetapi juga menjelaskan karakter dan golongan manusia berdasarkan sikap keimanannya. Pemahaman tersebut menjadi bahan refleksi bagi umat Islam untuk senantiasa mengevaluasi kualitas iman dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu mengemuka dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an pertemuan kedelapan yang diselenggarakan di Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Sabtu (31/10/2026). Mengangkat tema “Tiga Golongan Manusia yang Disebut Allah dalam Al-Qur’an”, kajian ini menghadirkan Al-Ustadz M. Nasrun, M.Pd.I., sebagai pemateri.

Dalam kajian tersebut, M. Nasrun menjelaskan bahwa Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 1–20, menguraikan tiga karakter utama manusia berdasarkan respons mereka terhadap kebenaran, yakni mukmin, kafir, dan munafik. Pembahasan ini juga dikaitkan dengan pengelompokan manusia dalam Surah Al-Waqi’ah sebagai bahan untuk memahami konsekuensi keimanan dan amal perbuatan.

Ia mengawali penjelasannya dengan menguraikan karakter golongan mukmin, yaitu orang-orang yang memiliki keyakinan kuat kepada Allah Swt. dan seluruh rukun iman. Keimanan tersebut tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus tertanam dalam hati dan dibuktikan melalui amal perbuatan.

Mengacu pada QS. Al-Baqarah ayat 1–5, Nasrun menjelaskan bahwa karakter orang beriman antara lain meyakini perkara gaib, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki, serta menjadikan petunjuk Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

Menurutnya, mendirikan salat memiliki makna lebih mendalam daripada sekadar melaksanakan kewajiban ritual. Seorang mukmin dituntut menjaga salat dengan penuh kesungguhan, ketertiban, dan kekhusyukan. Demikian pula dalam kehidupan sosial, keimanan harus tercermin melalui kejujuran, pemenuhan janji, menjaga amanah, dan kepedulian terhadap sesama.

Golongan kedua adalah orang-orang kafir, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 6–7. Dalam pemaparannya, Nasrun menerangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan karakter orang yang secara sadar menolak dan mengingkari kebenaran yang telah datang kepadanya.

Ia mengingatkan bahwa pesan utama dari pembahasan ini adalah pentingnya menjaga keterbukaan hati terhadap kebenaran dan tidak bersikap sombong ketika menerima nasihat. Setiap muslim perlu memiliki kerendahan hati untuk menerima peringatan serta memperbaiki diri ketika dihadapkan pada tuntunan agama.

Sementara itu, golongan ketiga yang mendapat perhatian khusus dalam kajian tersebut adalah orang-orang munafik. Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 8–20, Nasrun menjelaskan bahwa kemunafikan berkaitan dengan ketidaksesuaian antara pengakuan keimanan dan keadaan hati maupun perilaku seseorang.

Ia menguraikan tiga tanda kemunafikan sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, yaitu apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanah berkhianat.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesungguhan dalam beribadah, khususnya salat Isya dan Subuh berjamaah. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa kedua salat tersebut merupakan salat yang paling berat bagi orang-orang munafik.

Menurut Nasrun, pembahasan tentang kemunafikan harus menjadi peringatan bagi setiap muslim untuk senantiasa memeriksa kualitas ibadah, kejujuran, dan tanggung jawabnya. Keimanan tidak cukup ditampilkan melalui identitas atau pengakuan, tetapi harus tercermin secara konsisten dalam kehidupan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pengelompokan manusia dalam Al-Qur’an bukan dimaksudkan sebagai dasar untuk menghakimi orang lain. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut harus menjadi sarana muhasabah agar setiap muslim mampu mengenali kekurangan dirinya dan berusaha memperbaiki kualitas keimanannya.

“Jadilah mukmin yang sungguh-sungguh. Buktikan keimanan melalui salat berjamaah, semangat menuntut ilmu, menjaga amanah, serta memperbanyak amal kebaikan,” menjadi pesan penting yang ditekankan dalam kajian tersebut.

Kajian kemudian ditutup dengan doa agar Allah Swt. senantiasa meneguhkan hati umat Islam di atas keimanan dan ketaatan serta menjauhkan mereka dari sifat-sifat yang mencerminkan kekufuran dan kemunafikan.

Melalui kajian tafsir Al-Qur’an yang diselenggarakan secara rutin, Masjid SAMS UINSI Samarinda terus menjadi ruang penguatan spiritual, pengembangan wawasan keislaman, dan pembentukan karakter Qur’ani di lingkungan kampus. Kegiatan ini sekaligus mengajak jamaah menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan penguatan nilai-nilai Islam.

Semangat Wal Asri, Budayakan Amal Jama’i, Hidupkan Sunnah Nabi, Jadikan Masjid Tautan Hati, Bersama UINSI Bangun Generasi Qur’ani menjadi pesan yang mengiringi ikhtiar memakmurkan masjid dan membangun kehidupan kampus yang religius.#

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»