Tak Cukup Membaca, Mahasantri UINSI Samarinda Diajak Mendalami Ilmu-Ilmu Al-Qur’an

SAMARINDA, UINSI NEWS,- Berinteraksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafalkan ayat-ayatnya. Setiap muslim juga dituntut mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an agar mampu memahami kandungannya secara benar dan mengamalkannya sesuai tuntunan. Pesan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Tematik pertemuan ketujuh yang berlangsung di Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Sabtu (24/10/2026).

Kajian yang mengangkat tema “Kewajiban Mempelajari Al-Qur’an dan Ilmu-Ilmu yang Terkait dengan Al-Qur’an” ini menghadirkan Mudir Ma’had Al-Jami’ah UINSI Samarinda, Ustaz Abd. Syakur, Lc., M.H., sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, ia mengajak para mahasantri memahami bahwa membaca Al-Qur’an harus menjadi pintu masuk menuju proses pembelajaran, pendalaman makna, dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Mengawali materi, Ustaz Abd. Syakur mengingatkan kembali pembahasan pada pertemuan sebelumnya mengenai interaksi pertama seorang muslim dengan Al-Qur’an, yaitu mengimani bahwa seluruh isi Al-Qur’an merupakan firman Allah Swt. yang terjaga keasliannya. Keimanan tersebut mencakup keyakinan bahwa Al-Qur’an bukan hasil karangan manusia, tidak mengalami penambahan maupun pengurangan, serta dijaga langsung oleh Allah Swt., sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hijr ayat 9.

Ia menjelaskan bahwa keimanan terhadap Al-Qur’an harus diwujudkan secara menyeluruh, bukan sekadar pengakuan lisan. Setidaknya terdapat tiga dimensi yang harus terintegrasi, yakni tasdiq (membenarkan dengan hati tanpa keraguan), iqrar (mengakui melalui lisan dan membacanya), serta inqiyad (tunduk dan patuh melalui perbuatan serta pengamalan).

Memasuki materi utama pertemuan ketujuh, Ustaz Abd. Syakur menekankan pentingnya mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Menurutnya, pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak boleh dibangun hanya berdasarkan asumsi atau pemaknaan pribadi tanpa landasan keilmuan yang memadai.

Ia mengingatkan bahwa tindakan keagamaan yang tidak didasari ilmu berpotensi menimbulkan kesalahan, baik dalam membaca, memahami, menafsirkan, maupun mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena itu, mempelajari ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap muslim sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawab keilmuannya.

Landasan pentingnya mempelajari Al-Qur’an salah satunya terdapat dalam QS. Shad ayat 29. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang penuh keberkahan dan diturunkan agar manusia memperhatikan serta mentadabburi ayat-ayatnya. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya diperuntukkan untuk dibaca, tetapi juga dipahami, direnungkan, dan dijadikan pedoman kehidupan.

Ustaz Abd. Syakur juga mengutip hadis riwayat Imam Bukhari yang menyebutkan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Hadis tersebut, menurutnya, menunjukkan kemuliaan orang-orang yang tidak hanya berinteraksi dengan Al-Qur’an untuk dirinya sendiri, tetapi juga berupaya mendalami dan menyampaikan ilmu yang diperolehnya kepada orang lain.

Dalam pemaparannya, ia menguraikan sejumlah disiplin ilmu penting yang perlu dipelajari untuk memahami Al-Qur’an secara lebih utuh. Di antaranya ilmu tajwid untuk memastikan ketepatan bacaan; ilmu tafsir untuk memahami kandungan ayat; asbabun nuzul untuk mengetahui konteks turunnya ayat; serta ilmu akidah dan hukum Al-Qur’an untuk memahami dasar keimanan, perintah, dan larangan Allah Swt.

Selain itu, ia menjelaskan pentingnya mempelajari ilmu adab dan akhlak sebagai pedoman pembentukan karakter, Ulumul Qur’an sebagai disiplin yang mengkaji berbagai aspek Al-Qur’an, ilmu qira’at untuk memahami ragam bacaan yang sahih, nasikh dan mansukh untuk memahami perkembangan ketentuan hukum, serta ilmu i’jaz dan balaghah untuk mendalami kemukjizatan dan keindahan bahasa Al-Qur’an.

Penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu tersebut menjadi bekal penting agar umat Islam tidak terjebak pada pemahaman yang dangkal atau keliru dalam menyikapi kandungan Al-Qur’an. Lebih jauh, ilmu-ilmu tersebut membantu seorang muslim menghubungkan pemahaman tekstual dengan konteks, nilai, dan tuntunan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Menutup kajian, Ustaz Abd. Syakur menyampaikan pesan khusus kepada para mahasantri agar menjadikan semangat belajar sebagai bagian penting dari interaksi dengan Al-Qur’an.

“Mahasantri yang kuat adalah mahasantri yang tidak hanya rajin membaca, tetapi juga rajin mempelajari ilmunya,” pesannya.

Melalui kajian tafsir tematik ini, para mahasantri diharapkan semakin memahami bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an harus dibangun melalui kesatuan antara keimanan, pengetahuan, dan pengamalan. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan, melainkan petunjuk kehidupan yang harus dipelajari, dipahami, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Kajian rutin di Masjid Sultan Aji Muhammad Sulaiman UINSI Samarinda ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tradisi keilmuan dan pembinaan spiritual mahasantri, sehingga lahir generasi yang tidak hanya dekat dengan Al-Qur’an dalam bacaan, tetapi juga mendalam dalam pemahaman dan nyata dalam pengamalannya.#

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
LANGUAGE»