SAMARINDA, UINSI NEWS,-UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda melalui Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda bekerja sama dengan mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI), Ma’had Al Jami’ah UINSI Samarinda, serta Takmir Masjid SAMS sukses menyelenggarakan webinar bertema “Spirit Literasi Idul Kurban: Refleksi Pengorbanan, Iman, Ilmu, dan Kepedulian Sosial” (26/5/2026).
Kegiatan webinar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ustadz Abd Syakur, Lc., M.H dan Agus Prajitno, S.Si.T., M.Eng. Webinar berlangsung dengan penuh antusias dan diikuti mahasiswa serta masyarakat umum yang ingin memperdalam pemahaman tentang makna Idul Kurban dalam perspektif spiritual, sosial, dan literasi keislaman.
Kepala Pusat Literasi dan Media Digital UINSI Samarinda, Dr. Badrut Tamam, M.Pd.I, dalam opening speech menyampaikan bahwa Idul Kurban bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan kurban, melainkan momentum spiritual yang sarat dengan nilai pendidikan, keteladanan iman, dan kesalehan sosial.
“Peristiwa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan kepada kita tentang makna pengorbanan, ketaatan, keikhlasan, serta kepatuhan total kepada Allah SWT,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah kehidupan modern yang semakin individualistik, spirit Idul Kurban menjadi sangat relevan untuk membangun kembali solidaritas sosial dan kepedulian kemanusiaan. Berbagai kajian sosial keagamaan, lanjutnya, menunjukkan bahwa Idul Adha memiliki dimensi sosial yang kuat dalam mempererat hubungan antarmasyarakat dan memperkuat empati kepada kaum dhuafa.
“Pembagian daging kurban bukan hanya bentuk ibadah ritual, tetapi juga instrumen pemerataan sosial dan penguatan ukhuwah kemanusiaan,” katanya.
Dr. Badrut Tamam juga menyoroti fakta empiris bahwa momentum Idul Adha setiap tahun menghadirkan budaya gotong royong, kebersamaan masyarakat, serta meningkatnya kepedulian terhadap kelompok kurang mampu di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, Idul Kurban menjadi ruang bertemunya nilai spiritual dengan aksi sosial nyata di tengah masyarakat.
Selain itu, ia menilai perkembangan literasi digital saat ini menghadirkan tantangan baru dalam memaknai Idul Kurban. Generasi muda disebut lebih dekat dengan simbol visual dan media sosial dibandingkan refleksi nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
“Oleh sebab itu, webinar ini menjadi ruang edukasi agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memahami Idul Kurban tidak hanya sebagai tradisi seremonial, tetapi juga sebagai pembelajaran iman, ilmu, dan kepedulian sosial,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut, menurutnya, menegaskan bahwa esensi kurban bukan semata pada hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan kesungguhan hati seorang hamba kepada Allah SWT.
Selain itu, ia juga mengutip Surah Al-Kautsar ayat 2:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Dr. Badrut Tamam menegaskan bahwa spirit literasi Idul Kurban sejatinya mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang waktu, tenaga, ilmu, dan kepedulian terhadap sesama.
“Di era sekarang, pengorbanan dapat diwujudkan melalui berbagi ilmu, membantu masyarakat, membangun pendidikan, memperkuat solidaritas sosial, hingga menghadirkan konten-konten positif yang menebarkan nilai kemanusiaan dan perdamaian,” jelasnya.
Melalui webinar tersebut, pihak penyelenggara berharap lahir kesadaran baru bahwa Idul Kurban merupakan momentum membangun generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, tinggi kepeduliannya, serta mampu menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Webinar berlangsung aktif dan interaktif dengan berbagai diskusi mengenai makna kurban dalam kehidupan modern, penguatan literasi keagamaan, serta pentingnya membangun budaya kepedulian sosial di tengah masyarakat digital saat ini.#






