SAMARINDA,UINSI NEWS,- Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda melalui Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menggelar Yudisium dan Pengukuhan Guru Profesional ke-XIII Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Auditorium 22 Dzulhijjah UINSI Samarinda, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini diikuti oleh ratusan peserta secara langsung di auditorium dan ribuan peserta lainnya melalui daring. Momentum tersebut menjadi penanda resmi pengukuhan para lulusan PPG sebagai guru profesional yang siap mengabdi di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam laporannya, Dekan FTIK UINSI Samarinda, Prof. Dr. Muchamad Eka Mahmud, M.Ag., menyampaikan bahwa peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) LPTK UINSI Samarinda berasal dari berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Sabang hingga Merauke.
“Peserta PPG LPTK UINSI Samarinda berjumlah 1.913 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.896 mahasiswa dinyatakan lulus, sementara 16 mahasiswa belum lulus, sehingga tingkat kelulusan mencapai 99,1 persen. Hari ini peserta yudisium mengikuti kegiatan secara hybrid, yakni 315 orang hadir secara luring dan 1.581 peserta mengikuti secara daring,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa yudisium bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan legalitas sekaligus pengakuan resmi sebagai guru profesional.
“Saya berpesan kepada seluruh lulusan agar menjadi guru yang benar-benar profesional, tidak mengingkari amanah dan tanggung jawab setelah dinyatakan lulus PPG, serta senantiasa menjaga nama baik almamater LPTK UINSI Samarinda di mana pun bertugas,” pesannya.

Sementara itu, Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan sosok guru yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu menghadapi perubahan zaman.
“Bangsa ini membutuhkan guru-guru yang tidak hanya menguasai kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian, kemampuan beradaptasi, serta semangat untuk terus belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial menuntut para guru untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
“Jadilah pendidik yang mampu menciptakan pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik. Hadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter, menumbuhkan kreativitas, serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan,” tutur Rektor.
Pada kesempatan tersebut, perwakilan lulusan PPG, Slamet, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan kesan dan pesan mewakili seluruh peserta. Ia mengungkapkan bahwa proses pembelajaran selama mengikuti PPG di LPTK UINSI Samarinda memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam meningkatkan kualitas profesionalisme guru.
“Program ini sangat membantu kami dalam memperluas wawasan, terutama dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran serta membangun karakter yang humanis sebagai pendidik profesional. Nilai-nilai yang kami peroleh selama mengikuti PPG semoga dapat kami amalkan di tempat tugas masing-masing untuk mencetak generasi bangsa yang beriman, berkarakter, berilmu, dan berakhlak mulia,” ungkapnya.
Ia juga menilai bahwa proses pembelajaran di LPTK UINSI Samarinda benar-benar memberikan manfaat nyata bagi guru agar mampu beradaptasi dengan tantangan zaman yang terus berkembang.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Kepala Subdirektorat Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum Kementerian Agama RI, Dr. Khaerul Umam, M.Ud. Dalam orasinya, ia menekankan pentingnya memuliakan profesi guru sebagai fondasi pemerataan pendidikan nasional.
“Guru harus sejahtera dan harus dimuliakan agar pemerataan pendidikan di Indonesia dapat benar-benar terwujud. Guru juga harus mempersiapkan diri untuk terus menguatkan peserta didiknya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pendidik agama setidaknya memiliki dua tugas utama, yakni menguatkan akar dan menumbuhkan buah.
Menguatkan akar, menurutnya, berarti memperkuat keimanan peserta didik dengan menanamkan nilai-nilai Islam melalui kisah-kisah para nabi dan rasul yang sarat dengan hikmah, kebenaran, serta nasihat kehidupan. Melalui metode bercerita, anak akan lebih mudah membangun nalar, memperluas wawasan, dan mengembangkan kemampuan berpikir.
Selain itu, agama dan Al-Qur’an harus dijadikan sebagai sumber semangat untuk belajar, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta sains, sehingga pendidikan agama tidak berhenti pada aspek spiritual semata, tetapi juga mendorong lahirnya generasi yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan.
“Menumbuhkan buah berarti mencetak generasi yang siap tampil sebagai pribadi yang unggul, memiliki keimanan yang kuat, karakter yang kokoh, serta ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Yudisium dan Pengukuhan Guru Profesional ke-XIII ini menjadi momentum penting bagi LPTK UINSI Samarinda dalam memperkuat kontribusinya mencetak guru-guru profesional yang adaptif, berintegritas, dan siap menjawab tantangan pendidikan Indonesia di masa depan. Dengan tingkat kelulusan mencapai 99,1 persen, UINSI Samarinda kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu LPTK yang konsisten menghasilkan tenaga pendidik profesional berkualitas bagi bangsa.
Penulis: Lutfi Irawan
Editor: Nisa Rahmawati








