SAMARINDA, UINSI NEWS, — Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda kembali menggelar apel rutin yang diikuti oleh seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Bertindak sebagai Pembina Apel di Unit Rektorat, Rektor UINSI Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., menyampaikan amanat inspiratif mengenai filosofi kesuksesan, pentingnya ikhtiar kedinasan, dan adaptabilitas dalam organisasi. Senin, (20/7).
Mengawali arahannya, Rektor mengajak seluruh peserta apel untuk senantiasa bershalawat dan meneladani Nabi Muhammad SAW dalam setiap lini kehidupan dan pekerjaan. Prof. Zurqoni kemudian menyoroti bahwa setiap aparatur tentu mendambakan kesuksesan dalam karir. Meskipun hasil akhir merupakan ketetapan takdir Allah SWT, manusia diwajibkan melakukan ikhtiar terbaik (syariat).
Beliau mengibaratkan keberhasilan besar, seperti kemenangan Spanyol dalam Piala Dunia dini hari tadi melawan Argentina, bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan buah dari ikhtiar, latihan, dan perjuangan yang konsisten.
“Apakah kita termasuk orang yang sukses? Apakah Pak Biro sukses? Orang lain lah yang bisa menilai masing-masing. Namun, meskipun saat berjuang dulu kita belum merumuskan teori-teori ini, setidaknya cara-cara menuju sukses inilah yang sudah kita tempuh dan lakukan,” ujar Prof. Zurqoni.
Di hadapan para peserta apel, Rektor membagikan 5 poin utama dari 16 cara meraih kesuksesan karir dan organisasi yang perlu diinternalisasi oleh sivitas akademika UINSI Samarinda:
Kunci pertama kesuksesan adalah disiplin dalam segala hal, terutama dalam menuntaskan tugas. Rektor mengingatkan agar seluruh pegawai menghindari kebiasaan menunda pekerjaan. “Hari demi hari, waktu demi waktu, pekerjaan akan semakin banyak. Jika ditunda, tugas akan menumpuk dan itu akan membuat pikiran kita menjadi crowded serta kehilangan konsentrasi,” tegasnya.
Menggunakan filosofi “di atas langit masih ada langit”, Rektor mengingatkan bahwa apa yang telah dicapai hari ini belum tentu sempurna di mata publik. Beliau mencontohkan karya akademik seperti skripsi, tesis, hingga disertasi (S1, S2, S3) yang saat dibuat dirasa sudah sangat sempurna, namun ketika dibaca kembali di kemudian hari, seringkali membuat kita tersenyum sendiri karena menemukan kekurangan. Oleh karena itu, sikap mau terus belajar adalah mutlak.
Waktu ibarat emas yang sangat berharga. Prof. Zurqoni meminta seluruh sivitas akademika memanfaatkan waktu seefisien dan sebaik mungkin demi mencapai target-target strategis lembaga.
Sebagai manusia yang tidak sempurna, keterbukaan adalah kunci kemajuan. Rektor menegaskan bahwa kritik dan masukan harus disikapi secara bijak. “Ketika kita bekerja lalu ada kritik dan saran untuk perbaikan, itu hal biasa. Kita harus menerimanya. Saya sebagai Rektor juga tidak anti-kritik, begitu pula Pak Biro. Semua masukan harus kita terima dalam rangka kebaikan dan menuju sukses bersama,” jelas Beliau.
Kesuksesan juga ditentukan oleh kemampuan beradaptasi di lingkungan yang baru. Rektor mencontohkan perjalanan karir Kepala Biro yang dinamis mulai dari Banjarmasin, Kalimantan Utara, hingga mutasi ke UINSI Samarinda, dan kesiapan untuk ditugaskan kembali ke tempat lainnya. Dinamika rotasi dan mutasi harus dipandang sebagai proses pengayaan pengalaman dalam karir sipil.
Mengakhiri amanatnya, Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag. berharap nilai-nilai kedisiplinan, kerendahan hati untuk belajar, dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan ini dapat terus dihidupkan di lingkungan UINSI Samarinda demi membawa lembaga menuju rekognisi yang lebih luas.
Apel rutin berjalan dengan khidmat dan ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan bangsa serta kelancaran seluruh program kerja universitas.
Penulis : Novan Halim | Editor : Nisa Rahmawati












