SAMARINDA, UINSINEWS,-Jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga ketakwaan menjadi bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadap Allah kelak di akhirat. Jamaah yang dimuliakan Allah, Kita hidup pada zaman ketika kekayaan sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan, sedangkan jabatan dipandang sebagai lambang kemuliaan. Seseorang dihormati karena harta, kekayaan, gelarnya, dan tingginya kedudukan.
Sebaliknya, orang yang hidup sederhana terkadang dipandang sebelah mata, meskipun ia jujur, berilmu, dan memiliki akhlak yang mulia. Fenomena ini menjadi tantangan besar, terutama bagi kaum pemuda. Banyak anak muda berlomba-lomba menjadi kaya, terkenal, dan memiliki jabatan. Keinginan untuk sukses tentu tidak salah. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, memiliki kedudukan, atau mencapai cita-cita yang tinggi. Namun, persoalannya adalah ketika kekayaan dan jabatan dijadikan tujuan utama, sementara kejujuran, akhlak, dan ketakwaan diabaikan. Pertanyaannya, apakah orang yang kaya pasti mulia? Apakah orang yang memiliki jabatan tinggi pasti lebih terhormat di hadapan Allah? Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: ْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Ukuran kemuliaan manusia bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, keturunan, atau popularitasnya, melainkan ketakwaannya kepada Allah. Boleh jadi seseorang tidak memiliki jabatan, tetapi ia selalu jujur. Boleh jadi seseorang hidup sederhana, tetapi tangannya ringan membantu sesama. Boleh jadi seseorang tidak dikenal banyak orang, tetapi namanya mulia di hadapan Allah karena ketakwaannya.
Sebaliknya, seseorang bisa memiliki kekayaan melimpah dan jabatan tinggi, tetapi kehilangan kemuliaan. Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang perlu kita tanamkan kepada generasi muda. 1. kejarlah kesuksesan, tetapi jangan kehilangan kejujuran. Pemuda harus memiliki cita-cita yang tinggi. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bekerjalah dengan tekun, dan berusahalah menjadi manusia yang mandiri. Namun, jangan pernah menghalalkan segala cara demi mencapai kesuksesan. Jangan menipu untuk mendapatkan keuntungan. Jangan mengambil hak orang lain demi kekayaan. Jangan mengorbankan prinsip agama hanya demi sebuah jabatan. Ingatlah, keberhasilan yang diperoleh dengan mengorbankan kejujuran mungkin menghasilkan kekayaan, tetapi tidak akan menghadirkan ketenangan dan keberkahan. 2. Gunakan jabatan untuk mengabdi, bukan untuk menyombongkan diri.
Jabatan adalah amanah, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Seorang pemimpin yang mulia bukanlah orang yang selalu dilayani, melainkan orang yang bersedia melayani. Bukan orang yang menggunakan kekuasaan untuk menakut-nakuti, melainkan orang yang menghadirkan keadilan dan melindungi mereka yang lemah. Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ingat.., jabatan dalam Islam bukanlah tiket menuju kemuliaan, melainkan pertanggungjawaban. amanah menuju 3. Bangunlah kemuliaan melalui ilmu, akhlak, dan kepedulian. Wahai para pemuda, jangan hanya sibuk membangun penampilan, tetapi lupa membangun kepribadian. Jangan hanya berusaha terlihat hebat di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah. Kecerdasan tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan. Kekayaan tanpa kepedulian dapat melahirkan keserakahan. Jabatan tanpa integritas dapat melahirkan kezaliman. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak akan melahirkan kebijaksanaan. Kekayaan yang disertai kepedulian akan melahirkan manfaat. Jabatan yang disertai amanah akan melahirkan keadilan. Jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita renungkan sebuah kenyataan: ketika manusia meninggal dunia, jabatan yang dibanggakannya akan ditinggalkan, hartanya akan diwariskan, dan pujian manusia akan perlahan dilupakan. Yang akan menyertai dirinya adalah amal perbuatannya. Allah Swt. berfirman dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 88–89:
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Ayat ini bukan berarti harta tidak penting. Harta dapat menjadi jalan kebaikan apabila diperoleh secara halal dan digunakan untuk kemaslahatan. Jabatan juga dapat menjadi ladang pahala apabila dijalankan dengan adil dan penuh tanggung jawab. Maka dari itu, Wahai para pemuda, jadilah generasi yang kaya ilmu, kuat iman, baik akhlak, dan luas manfaatnya. Jika kelak menjadi orang kaya, jadilah orang kaya yang dermawan. Jika menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang adil. Jika belum memiliki keduanya, jangan pernah merasa rendah diri selama kita terus berusaha, menjaga kehormatan, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Sebab, kemuliaan sejati bukan terletak pada seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, melainkan pada seberapa rendah hati kita di hadapan Allah dan seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada sesame.#




